Jumat, 18 Agustus 2017

Why Podcast?

Selama periode reader's block saya (yang tampaknya masih berlanjut sampai sekarang), saya lari ke dua hal berikutnya yang bisa membunuh kebosanan saya: film dan podcast.

Kenapa podcast? Karena bagi saya, dari segi hiburan dan nutrisi otak podcast nyaris tidak beda jauh dengan buku, dan baiknya lagi: gratis.

Podcast, atau Siniar--kalau dalam bahasa Indonesia, bisa dibilang seperti artikel audio (meski ada juga podcast video, tapi masih kalah popularitasnya). Bentuknya berupa file yang bisa kita dengarkan melalui streaming, ataupun diunduh untuk didengarkan kapanpun juga. Prinsip podcast hampir sama dengan radio, tapi podcast lebih bersifat on-demand. Kita bisa memilih konten apa yang kita ingin dengar, kapanpun juga, dan berapakalipun juga.

Teknologi podcast sebenarnya sudah lama beredar, sekitar 13 tahun, tapi seperti banyak orang lainnya, saya baru benar-benar memperhatikan podcast sejak hype Serial dimulai di tahun 2014. (sidenote: podcast Serial sebegitu terkenalnya, sampai dijadikan standar sendiri, dan bahkan istilah 'the new Serial' digunakan untuk menyebut podcast baru yang happening).

Setelah Serial selesai, saya iseng buka-buka podcast lainnya. Entah melalui rekomendasi beberapa situs, atau hanya random browsing di daftar podcatcher saya. Saat itulah baru saya sadar betapa luasnya dunia podcast. Jumlah podcast mungkin belum sebanyak jumlah video di YouTube, tetapi temanya jauh, jauh, jauh, lebih tidak terbatas. Mulai dari yang 'normal' seperti siaran radio, ataupun yang gila dan kontroversial, seperti podcast yang khusus membahas teori konspirasi, sampai podcast yang jelas-jelas rasialis.

Podcast sifatnya ringan, tapi padat dan bergizi. Hanya dengan waktu kurang dari satu jam, saya bisa mendengar cerita tentang sejarah tragis Marilyn Monroe, pembahasan tentang mitologi Atlantis, ataupun debat antara penyihir dan berang-berang. Sambil mendengarkan, saya masih bisa mengerjakan hal-hal lain, entah itu membersihkan kamar, iseng olahraga, atau nunggu bis. Singkatnya, saya masih bisa sibuk tanpa perlu repot.

Awalnya, saya kira kecintaan saya sama podcast hanya karena faktor saya bisa dapat ilmu/membunuh kebosanan cukup dengan mendengarkan saja. Kalau begitu, tentu audiobook bisa punya pengaruh yang sama? Sayangnya tidak. Saya sudah beberapa kali mendengarkan audiobook, tapi tidak ada yang benar-benar menarik perhatian. Hanya dalam beberapa kalimat, pikiran saya pasti sudah nyasar kemana-mana, hilang fokus, dan gak ngerti apa yang barusan saya dengar/baca. Ujung-ujungnya bakal repot bolak-balik rewind, dan kalaupun sudah selesai, pasti saya langsung lupa lagi ceritanya. Bahkan dalam keadaan reader's block parah seperti ini, saya masih lebih memilih baca buku dibanding dengerin audiobook.

Saya tidak tahu jelas apa penyebabnya, mungkin karena naratornya? Tidak juga, meskipun yang membaca adalah seleb favorit saya seperti Neil Gaiman atau Stephen Fry, tetap saja saya tidak belum bisa jatuh cinta dengan audiobook. Apa mungkin karena otak saya tidak cukup terstimulasi? Tidak seperti podcast, audiobook tidak banyak menggunakan efek suara atau musik latar; karena itu, tidak ada 'sense of space' yang muncul. Sebelum pikiran saya sempat membentuk karakter atau tempat dalam audiobook, narator sudah berpindah ke halaman lainnya.

Analoginya seperti ini, kalau kita menulis tesis, bahasa yang diketik tentu akan berbeda dengan bahasa yang digunakan kalau kita mempresentasikan langsung di depan kelas. Kalau sama, kemungkinannya bakal ada dua: tesis yang dihasilkan bakal tidak jelas maksudnya apa, atau presentasi kita bakal jadi presentasi paling membosankan yang pernah ada. Bagi saya, perbedaan bahasa visual dan bahasa tulisan ini sama halnya dengan audiobook versus buku.

Jadi sekarang, untuk menunggu gairah saya terhadap buku pulih kembali, dan untuk membunuh kebosanan tanpa perlu repot bersosialisasi dengan manusia, podcast jadi pilihan utama. Dan karena itu, untuk beberapa saat, tampaknya blog ini bakal dipenuhi dengan postingan tentang podcast.

Yep.








Senin, 14 Agustus 2017

(Severe) Reader's Block : Rant Edition




Urban Dictionary:
"Related to Writer's Block, this is when you cannot, for the life of you, pick up a book and read it. 
Sure, you may be able to read a paragraph or two, or maybe even a page, but you don't retain anything of what you just read or have the attention span and/or will to go on. This is common for those who have ADD, are in possession of garbage literature, or are just so exhausted from having to read so many books during school/college that reading anything else, even for pleasure, has become impossible. To those who love to read, this is worse than heart disease and cancer combined."


untuk seseorang yang "cinta buku" (dan punya blog tentang buku, dengan judul buku..), jumlah buku yang saya baca sangat sedikit. Terlalu sedikit. 
Terutama setahun terakhir ini. Nyaris tidak ada buku baru yang saya baca. Memang ada beberapa buku yang lama yang saya baca ulang, tapi selain itu dan beberapa komik lainnya, tidak ada baru. Saya tidak tahu jelas alasannya, apa karena capek, atau bosan, atau muak. Tapi kemungkinan besar penyebabnya adalah satu: BUKU ITU MAHAL.

Harga buku di Indonesia keterlaluan mahalnya. Kalau beberapa tahun yang lalu harga yang tertera hanya membuat saya masam, tapi akhir-akhir ini melihat harga di toko buku nyaris bikin serangan jantung. 

Dulu, meskipun saya tidak tahu isi buku itu apa dan saya tidak kenal/pernah dengar nama pengarangnya, saya masih bisa cukup nekat untuk beli buku. Kalau bagus, ya untung, kalau nggak, ya sudah, bikin review, lalu sumbang saja bukunya. Tapi sekarang, meskipun itu pengarang favorit saya, dan saya sudah haqul yakin buku itu bakal bagus, saya akan berpikir seribu kali sebelum beli buku itu. Kalaupun ada daftar prioritas, beli buku itu bakal menempati nomor paling bawah, tepat di bawah input daftar: "BERTAHAN HIDUP". Kalau dulu membaca buku adalah menjadi kebutuhan (utama) bagi saya, sekarang harga buku yang mahal membuat membaca buku menjadi keegoisan bagi saya. 

Kenapa harga buku begitu mahal di Indonesia? Panjang cerita tragedinya, mulai dari pajak yang begitu banyak diterapkan oleh pemerintah, harga kertas yang melonjak, hingga monopoli sadis toko buku besar. (lihat: ini dan ini)

Perpustakaan?
meh.
Perpustakaan yang bisa saya datangi (dengan kategori: milik publik, dekat dengan akses transportasi umum, dan berjarak kurang dari satu jam perjalanan) jauh dari kata layak. Orang-orang yang datang ke sana hanya untuk dua hal: Internet gratis dan atau baca koran. Jangankan buku yang update, buku sastra klasik Indonesia saja tidak bisa saya temukan di sana. 

Akhir-akhir ini, saya semakin tidak tahan melihat kampanye-kampenye 'Meningkatkan Minat Baca Indonesia' yang dijalankan pemerintah. Isinya cuman retorika belaka. Omong kosong. Pemerintah gak usah ngeluh, sok bilang 'orang Indonesia malas baca', kalau kenyataannya masih tidak memperdulikan harga buku yang melonjak tinggi. Oke, hebat, bolak-balik kasih penghargaan ke ratusan Pustaka Keliling, tapi seperti melupakan fakta kalau Perpustakaan milik pemerintah sendiri gak pernah diurus dengan benar.

Saya sedih, marah, dan muak. Dan mungkin, luapan emosi ini juga yang membuat Reader's Block saya semakin parah. Meski harus diakui, pada akhirnya, emosi-emosi ini tidak berguna, tetap tidak bisa mengisi dompet saya dengan uang untuk beli buku. 

Untuk sekarang ini, yang bisa saya lakukan hanya menutup telinga dan mata saja setiap ada liputan tentang Kampanye Literasi yang muncul. Dan untuk kutukan Reader's Block, saya sudah berhenti untuk mencoba melawannya. Bukan berarti saya menyerah dan berhenti membaca buku, saya cuman mulai dari hal kecil saja dulu, mengingat kembali rasa sayang saya terhadap buku, waktu yang telah saya habiskan bersama buku, dan apa yang telah mereka berikan kepada saya...
(yes, I'm still talking about books)





-end of rant-

Sabtu, 09 April 2016

Lelaki Harimau | Review

Lelaki Harimau

Eka Kurniawan, 2004
Gramedia Pustaka Utama
ISBN13 9786020307497



Tidak seperti yang saya harapkan. Malahan, lebih baik daripada yang saya harapkan.

Di halaman-halaman awal, paragrafnya yang penuh dengan sub-kalimat, dan juga POV yang beragam, terus terang mengingatkan saya sama novelnya Gabo. Meskipun bukan saya saja yang berpikir seperti ini, tapi sesungguhnya Eka Kurniawan punya gayanya sendiri. Bahasanya juga apik, dan membuat saya sedikit 'kasihan' dengan orang luar yang membaca buku terjemahannya.

Ceritanya bukan tentang Margio saja, yang membunuh Anwar Sadat dengan cara kejam tak terbayangkan, tetapi hampir tentang semua orang yang berputar dalam kehidupannya, mulai dari orang kampung sekitar, teman-temannya, ayah, ibu, hingga janda tua pemilik tanah setengah desa.

Sebenarnya, di tengah buku saya agak tak sabaran, dengan semua sub-sub-cerita itu, timeline yang kadang melompat-lompat maju mundur kiri kanan, dan salah ketik yang meninggalkan tanda ¬.

Kemudian saya akhirnya sadar bahwa kisah dan latar belakang para tokoh ini kemudian berputar, membentuk suatu motif kenapa Margio, suatu hari di tengah sore yang sepi itu, membisikkan beberapa kata kepada Anwar Sadat sebelum mengigit urat lehernya hingga putus.

Harimau itu mungkin sudah terpendam di dalam hati banyak orang, tetapi Margio-lah yang membiarkannya keluar..