Sabtu, 26 Desember 2015

Seri Buku TEMPO: Antropologi Kuliner Nusantara | Review

Seri Buku TEMPO: Antropologi Kuliner Nusantara

TEMPO, 148 halaman
6 Juli 2015
ISBN13 9789799108913


Seperti halnya pendapat bahwa 'tidak ada orang yang benar-benar asli Indonesia', dalam hal kuliner juga bisa dibilang tidak ada masakan yang benar-benar asli Indonesia. Sederhana saja, negara ini terbentang begitu luas, dengan keanekaragaman yang nyaris tidak terhitung, tidak ada jenis masakan yang benar-benar bisa merangkum dan merengkuh semua itu. Sejarah padi di negara ini saja terhitung masih 'muda' jika dibandingkan dengan Asia Timur.

Buku ini kemudian berniat untuk membahas 'tingkah laku' kuliner Indonesia yang beragam ini, dan saya kutip: "...menelusuri 'peradaban rasa' itu dari tumpukan manuskrip kuno hingga ke jantung belantara di pulau-pulau yang jauh. ..."

Pada bagian awal, untuk memulai diskusi, dimulai dengan Ternate dan Tidore; salah satu daerah penting dalam hal sejarah rempah dunia. Dari segi penyajian (ahem), buku ini terbilang cukup menarik. Foto-fotonya tertata dengan baik, menarik mata, dan yang terpenting: sungguh menarik selera.

Tapi sayangnya, selera ini kemudian semakin menurun seiring bertambahnya jumlah halaman yang dibaca. ...

Layout-nya yang sederhana tapi berwarna memang tidak berubah, namun semakin lama saya semakin merasa buku ini lebih terasa seperti laporan travelling, dengan tips-tips wisata kulinernya. Memang tidak terlalu salah, tapi saya mengharapkan sedikit lebih banyak dari buku yang mempunyai subjudul "Ekonomi, Politik, dan Sejarah di Belakang Bumbu Makanan Nusantara"..

Ataukah buku ini hanya mencantumkan kata 'Antropologi' dalam judulnya sebatas untuk trik dagang saja?

Memang bukan tinjauan akademis berlibet-libet penuh daftar pustaka yang saya harapkan, tapi paling tidak ada tinjauan lah.. Banyak info singkat dalam buku ini yang diulang-ulang, bahkan dalam jarak kurang dari dua paragraf.

Kajian antropologis--yang secara umum berarti kaitan manusia dan kebudayaan yang dihasilkannya--juga nyaris nihil. Cerita historis, cerita lokal, lalu apa? Tidak ada usaha untuk mengaitkan info-info singkat ini.

Beberapa bagian juga terasa disimplifikasi, seperti Jawa = Solo = Jogja = keraton = manis. Padahal Solo dan Jogja, meskipun letak geografisnya sungguh begitu dekat, tetapi ada beberapa poin-poin kebudayaan yang menurut saya tidak boleh dilewatkan begitu saja. Misalnya pengaruh pendatang Cina dan Arab yang sangat besar di Solo. Tentu poin-poin ini sedikit banyak juga berpengaruh penting dalam kultur kuliner kedua kota.

Satu lagi titik lemah dalam buku ini: kalau berbicara tentang kuliner, tentunya bukan hanya tentang lidah dan perut saja. Tata cara penyajian sebuah masakan, atau tipe makanan dalam suatu kebudayaan pasti ada latar belakang historis dan sosialnya. Misalnya, apakah pisang rebus yang biasa dimakan sebagai snack di angkringan sama dengan pisang rebus yang dimakan sebagai pendamping makanan utama di daerah Sulawesi atau Maluku?

Sebagai tinjauan antropologi, buku ini sangat mengecewakan. Tetapi, sebagai penggugah pengetahuan, buku ini cukup lumayan. Paling tidak cerita-cerita menarik, deskripsi makanan yang begitu detil, dan juga tips wisata yang ada, mungkin bisa membangkitkan kesadaran orang bahwa kuliner Indonesia jauh, jauh, jauh, lebih banyak dari sekedar nasi dan gorengan saja.

Ke depannya, saya juga berharap bahwa para penulis bisa mengkaji kuliner Nusantara dengan jauh, jauh, jauh, jauuuh lebih baik, lebih besar, dan lebih luas. (Papua!!)

Kamis, 19 November 2015

Arsène Lupin, Gentleman-Thief | Review

Arsène Lupin, Gentleman-Thief
Maurice Leblanc

Judul asli: Arsène Lupin, Gentleman cambrioleur
279 halaman
Diterbitkan pertama kali tanggal 1 Januari 1907
ISBN 0143104861 (ISBN13: 9780143104865)

Arsène Lupin, sang pencuri baik hati, ahli menyamar, dan dikenal dengan julukan Pria Seribu Wajah. Tokoh fiksi ini diciptakan Maurice Leblanc pada tahun 1905. Sebelum berbentuk buku, Leblanc menulis cerita Lupin awalnya sebagai serial cerita pendek di majalah Prancis, Je sais tout.

Di tengah kejayaan Sherlock Holmes, tokoh Lupin yang cerdik, berani, pintar berkata-kata dan penuh kharisma, sering dikaitkan dan dibanding-bandingkan dengan tokoh detektif Inggris yang satu itu. Tidak heran jika hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, Maurice Leblanc kemudian menciptakan cerita Arsène Lupin vs. Sherlock Holmes (meski karena urusan hak cipta, nama tokoh Sherlock Holmes kemudian 'diganti' menjadi Herlock Sholmes)

Arsène Lupin, Gentleman-Thief adalah kumpulan cerita Lupin yang pertama kali dibukukan. Dalam buku ini ada delapan cerita pendek, dan salah satunya adalah kisah ketika Herlock Sholmes (a.k.a Sherlock Holmes) yang sudah berumur, pertama kali bertemu dengan sang pencuri muda Arsène Lupin. 

Maurice Leblanc tidak pernah terlalu deskriptif dalam menggambarkan tokoh pencuri Lupin. Pembaca seperti dibebaskan untuk mencari dan memutuskan sendiri karakter Arsène Lupin. Sang bangsawan penarik hati atau hanya lelaki gombal? Pencuri baik hati atau hanya bocah haus perhatian? 
Benar-benar tokoh dengan seribu wajah, seperti gelarnya.


Rabu, 21 Oktober 2015

Dosa dan Denda 1½ Dekade

errr..

Posting ini, tampaknya—harusnya—berfungsi sebagai pengingat di masa depan (semoga).

Jadi, ceritanya dimulai ketika 1½ dekade yang lalu, setelah sepuluh tahun saya menghabiskan waktu di tempat ajaib ini, saya harus pindah ke kota lain dan pulau lain. Buat orang yang pernah pindah rumah, apalagi pindah kota, pasti tahu betapa kacau dan semrawut prosesnya—bahkan untuk pelaku yang saat itu masih belum dewasa. Semua barang harus dibongkar, dipisahkan, diatur, dan ditata untuk dikemas. Melelahkan secara fisik dan emosional. Apalagi ketika berurusan dengan koleksi buku, yang dijamin otomatis akan membuat saya lebih berisik, jauh lebih berisik dari biasanya.

Singkat cerita dan waktu untuk bercerita, 1½ dekade sudah berlalu, dan tempat tinggal itu sudah lama masuk daftar nostalgia buat saya. Seperti pribadi ini, koleksi buku lama saya juga sudah berkali-kali bertumbuh, berkembang, berkurang dan bertambah. Tapi ada hal yang memalukan, sungguh sungguh memalukan. Meski sebelumnya sudah disebut saya adalah manusia yang berisik dan cerewet kalau sudah berurusan dengan buku, tapi tampaknya tingkat kecerewetan ini tidak sama dengan tingkat keterampilan dan ketertiban saya.

Dari koleksi buku yang sudah berpindah tempat ini, baru bertahun-tahun saya sadari bahwa ada 2 buku yang bukan milik saya, tapi milik perpustakaan.

Iyep, entah kenapa tampaknya dalam kesibukan persiapan perpindahan itu, saya masih sempat meminjam dua buku serial Goosebumps dari perpustakaan kantor di dekat rumah saya—atau mungkin sangat sangat lupa untuk mengembalikan. Harap maklum, ini bukan perpustakaan profesional di daerah mentereng.

Karena ini sudah bertahun-tahun lamanya terjadi, di tempat yang sangat jauh, mental cuek dan logika pemalas saya kumat untuk melupakan saja kejadian ini (baca: biarkan saja dua buku itu mendekam di rak bersama yang lainnya). Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada yang dikerjakan selain berpikir, dua buku ini—meskipun hanya serial Goosebumps dan hanya dari perpustakaan kecil itu—juga adalah utang saya. Saya yang meminjam dari perpustakaan tersebut, sudah berjanji untuk mengembalikan, dan janji adalah utang, bukan? Dan saya tidak mau kalau mati nanti, entah kapan, bakal susah hanya karena ada dua buku perpustakaan yang belum saya kembalikan.

Jadi, sudah beberapa minggu terakhir ini saya sudah bolak-balik berpikir bagaimana caranya saya mengembalikan dua buku Goosebumps ini.

Mudah-mudahan saja, mereka tidak repot-repot menghitung dendanya...

err..

5.559 DAYS?! GREAT SCOTT!!