Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2016

Lelaki Harimau | Review

Lelaki Harimau

Eka Kurniawan, 2004
Gramedia Pustaka Utama
ISBN13 9786020307497



Tidak seperti yang saya harapkan. Malahan, lebih baik daripada yang saya harapkan.

Di halaman-halaman awal, paragrafnya yang penuh dengan sub-kalimat, dan juga POV yang beragam, terus terang mengingatkan saya sama novelnya Gabo. Meskipun bukan saya saja yang berpikir seperti ini, tapi sesungguhnya Eka Kurniawan punya gayanya sendiri. Bahasanya juga apik, dan membuat saya sedikit 'kasihan' dengan orang luar yang membaca buku terjemahannya.

Ceritanya bukan tentang Margio saja, yang membunuh Anwar Sadat dengan cara kejam tak terbayangkan, tetapi hampir tentang semua orang yang berputar dalam kehidupannya, mulai dari orang kampung sekitar, teman-temannya, ayah, ibu, hingga janda tua pemilik tanah setengah desa.

Sebenarnya, di tengah buku saya agak tak sabaran, dengan semua sub-sub-cerita itu, timeline yang kadang melompat-lompat maju mundur kiri kanan, dan salah ketik yang meninggalkan tanda ¬.

Kemudian saya akhirnya sadar bahwa kisah dan latar belakang para tokoh ini kemudian berputar, membentuk suatu motif kenapa Margio, suatu hari di tengah sore yang sepi itu, membisikkan beberapa kata kepada Anwar Sadat sebelum mengigit urat lehernya hingga putus.

Harimau itu mungkin sudah terpendam di dalam hati banyak orang, tetapi Margio-lah yang membiarkannya keluar..

Sabtu, 12 Maret 2016

Lolita | Review


Lolita

Vladimir Nabokov, 1955
Anton Kurnia (penerjemah)
Serambi, September 2009
526 halaman
ISBN13 9789791112864

Buku ini bisa dibilang adalah monolog dari Humbert Humbert, berisi tentang pengakuannya kepada para juri (pengadilan?). H.H ditangkap karena pembunuhan terhadap Clare Quilty, dia kemudian menjelaskan hal ini. Semuanya berawal, berfokus, dan berakhir kepada satu gadis: Lolita

Pengakuan ini, tentang pembunuhan, tentang obsesi tidak pantasnya terhadap para 'peri asmara' (nymphets, kalau di naskah Inggrisnya)--anak perempuan yang berumur 9-14 tahun--juga berbagai kejahatan lainnya, nyaris tanpa rasa bersalah sedikit pun, tapi juga tanpa usaha untuk menjustifikasi perbuatannya.

Seram? tentu saja seram. Humbert Humbert menggambarkan dengan cukup detil rasa sayang dan cintanya terhadap Lolita, dan bagaimana sang gadis baru puber itu berhasil membuatnya tergila-gila. Berbagai skenario berputar di kepala H.H untuk mendapatkannya, mulai dari rencana pembunuhan, rencana 'percintaan'nya, hingga percobaan obat tidur untuk membius sang korban.

Pengakuan Humbert Humbert mengingatkan saya pada tokoh Hans Beckert dalam film M (1931, Fritz Lang, wajib ditonton). Keduanya sama-sama pedofil, namun dengan alasan dan tujuan yang berbeda, H.H mendekati para anak gadis karena kecintaannya, sementara Hans Beckert membunuh para anak gadis karena 'keharusan' yang ada dalam dirinya. Dalam film itu, ketika tokoh Hans Beckert akhirnya tertangkap, ia melanturkan sebuah monolog tak terlupakan--yang menurut saya adalah salah satu yang terbaik dalam sejarah film:

"I can’t help what I do! I can’t help it, I can’t…What do you know about it? Who are you anyway? [...] But I… I can’t help myself! I have no control over this, this evil thing inside of me, the fire, the voices, the torment! … It’s there all the time, driving me out to wander the streets, following me, silently, but I can feel it there. It’s me, pursuing myself! I want to escape, to escape from myself! But it’s impossible. I can’t escape, I have to obey it. [...]"

Sepanjang film itu, rasa jijik dan kebencian terhadap tokoh Hans Beckert begitu memuncak, namun hal ini sedikit goyah ketika ia begitu jujur berkata tentang ketidaksanggupannya untuk menahan dirinya sendiri.

Humbert yang sebegitu santainya melemparkan humor disana-sini justru membuat buku ini semakin seram. Ada sensasi rasa dingin yang nyaris tidak berhenti mengalir di tulang punggung saya ketika membaca buku ini. Bukan karena kejahatan H.H yang begitu 'sakit', tapi justru karena saya, tanpa sadar, bisa memahami, bahkan nyaris bersimpati, dengan si tokoh pedofil ini..



What do you know about it? Who are you anyway??

Selasa, 08 Maret 2016

Night Flight | Review

Night Flight



Elex Media Komputindo
ISBN13 9789792777710
 
 
Novel grafis ini diadaptasi dari buku Antoine de Saint-Exupéry, sang pengarang Le Petit Prince yang sudah terkenal akan cintanya kepada dunia aviasi. 
 
Pada awal abad ke-21, pesawat terbang adalah penemuan terbaru yang merubah pergerakan dunia ketika itu. Kecepatan dan waktu singkat menjadi premis berarti dalam dunia bisnis.
 
Night Flight bercerita tentang perusahaan pos udara yang beroperasi di daerah Amerika Selatan, dengan rute Patagonia, Chile, Argentina dan Paraguay. Untuk mengejar waktu (dan menambah keuntungan), penerbangan malam pun digerakkan. Di daerah dengan iklim dan cuaca yang susah ditebak, dan masa ketika radar belum dikenal dunia navigasi, bisa dibilang penerbangan malam adalah tantangan terberat seorang pilot pesawat. 
 
Kisah ini berfokus pada dua karakter, Riviere, sang pemilik usaha pos udara yang mementingkan perusahaannya, dan menganggap bahwa kerja keras semua pihak adalah hal terpenting dalam mencapai keberhasilan itu. Karakter kedua adalah Fabien, pilot yang terbang dari Patagonia, meskipun baru memulai kehidupan berkeluarga, namun tetap berusaha berdedikasi dengan pekerjaannya yang berbahaya. 
 
Ketika badai hujan dan angin kencang mengancam para pilot penerbangan malam, kedua karakter ini kemudian dipertemukan dalam pertanyaan besar akan apakah profesionalitas pekerjaan mereka cukup berharga untuk dibayar dengan nyawa.
 
Novel grafis ini merupakan bagian dari Manga de Dokuha, serial buku yang mengangkat karya-karya sastra dari penulis besar di dunia, dan memodifikasinya dalam bentuk komik. Karena tujuan dari serial ini adalah agar karya-karya tersebut bisa lebih gampang dipahami, maka tentu ada beberapa 'perubahan' yang harus dilakukan, salah satunya adalah pemotongan beberapa narasi, dialog, dan juga jalan cerita. 
 
Yah, ketika perubahan itu dilakukan kepada tulisan Antoine de Saint-Exupéry, saya jadi rada nyesek. Narasi Saint-Exupéry adalah salah satu yang terbaik, dan ketika dirubah menjadi gambar, rasanya tidak akan sama. 
 
Gaya manga yang diterapkan juga terasa janggal di beberapa bagian cerita ini. Seperti ekspresi wajah, dan desain karakter yang agak tidak pas dengan latar belakang tempat. Tapi terlepas dari itu, versi buku ini terhitung lumayan, terutama dalam menggambarkan tekanan batin sang bos, Riviere. Dan juga lumayan, karena paling tidak berhasil dalam membuat saya penasaran dan ingin mencari buku aslinya, atau buku terjemahannya kalau masih ada. 

Selasa, 01 Maret 2016

Pada Suatu Hari Nanti & Malam Wabah | Review


Pada Suatu Hari Nanti & Malam Wabah

Sapardi Djoko Damono, Juni 2013
200 halaman
ISBN13 9786027888401



Buku kumpulan cerita ini dibagi dua, bagian Pada Suatu Hari Nanti merupakan retelling SDD akan dongeng-dongeng yang sudah lama dikenal masyarakat, mulai dari Rama-Sita hingga si Kancil. Sedangkan Malam Wabah bisa dibilang adalah kebalikannya, bagian ini merupakan usaha SDD untuk menciptakan dongeng dan kisah tersendiri dari detil-detil kecil--terkadang nyaris terlupakan--yang ada di kehidupan 'biasa'.

Meskipun terlihat seperti dua sisi yang berbeda, ada satu persamaan yang terlihat, baik itu legenda lama atau baru, mereka tidak pernah benar-benar diberikan akhir. SDD seakan memberikan kebebasan kepada mereka untuk berkembang dalam setiap dimensi yang ada dalam pikiran masing-masing pembaca.

Karena itu, membaca buku ini terkadang terasa bukan seperti cerita pendek, tapi sajak-sajak panjang dari Pak Sapardi. :]

Sabtu, 26 Desember 2015

Seri Buku TEMPO: Antropologi Kuliner Nusantara | Review

Seri Buku TEMPO: Antropologi Kuliner Nusantara

TEMPO, 148 halaman
6 Juli 2015
ISBN13 9789799108913


Seperti halnya pendapat bahwa 'tidak ada orang yang benar-benar asli Indonesia', dalam hal kuliner juga bisa dibilang tidak ada masakan yang benar-benar asli Indonesia. Sederhana saja, negara ini terbentang begitu luas, dengan keanekaragaman yang nyaris tidak terhitung, tidak ada jenis masakan yang benar-benar bisa merangkum dan merengkuh semua itu. Sejarah padi di negara ini saja terhitung masih 'muda' jika dibandingkan dengan Asia Timur.

Buku ini kemudian berniat untuk membahas 'tingkah laku' kuliner Indonesia yang beragam ini, dan saya kutip: "...menelusuri 'peradaban rasa' itu dari tumpukan manuskrip kuno hingga ke jantung belantara di pulau-pulau yang jauh. ..."

Pada bagian awal, untuk memulai diskusi, dimulai dengan Ternate dan Tidore; salah satu daerah penting dalam hal sejarah rempah dunia. Dari segi penyajian (ahem), buku ini terbilang cukup menarik. Foto-fotonya tertata dengan baik, menarik mata, dan yang terpenting: sungguh menarik selera.

Tapi sayangnya, selera ini kemudian semakin menurun seiring bertambahnya jumlah halaman yang dibaca. ...

Layout-nya yang sederhana tapi berwarna memang tidak berubah, namun semakin lama saya semakin merasa buku ini lebih terasa seperti laporan travelling, dengan tips-tips wisata kulinernya. Memang tidak terlalu salah, tapi saya mengharapkan sedikit lebih banyak dari buku yang mempunyai subjudul "Ekonomi, Politik, dan Sejarah di Belakang Bumbu Makanan Nusantara"..

Ataukah buku ini hanya mencantumkan kata 'Antropologi' dalam judulnya sebatas untuk trik dagang saja?

Memang bukan tinjauan akademis berlibet-libet penuh daftar pustaka yang saya harapkan, tapi paling tidak ada tinjauan lah.. Banyak info singkat dalam buku ini yang diulang-ulang, bahkan dalam jarak kurang dari dua paragraf.

Kajian antropologis--yang secara umum berarti kaitan manusia dan kebudayaan yang dihasilkannya--juga nyaris nihil. Cerita historis, cerita lokal, lalu apa? Tidak ada usaha untuk mengaitkan info-info singkat ini.

Beberapa bagian juga terasa disimplifikasi, seperti Jawa = Solo = Jogja = keraton = manis. Padahal Solo dan Jogja, meskipun letak geografisnya sungguh begitu dekat, tetapi ada beberapa poin-poin kebudayaan yang menurut saya tidak boleh dilewatkan begitu saja. Misalnya pengaruh pendatang Cina dan Arab yang sangat besar di Solo. Tentu poin-poin ini sedikit banyak juga berpengaruh penting dalam kultur kuliner kedua kota.

Satu lagi titik lemah dalam buku ini: kalau berbicara tentang kuliner, tentunya bukan hanya tentang lidah dan perut saja. Tata cara penyajian sebuah masakan, atau tipe makanan dalam suatu kebudayaan pasti ada latar belakang historis dan sosialnya. Misalnya, apakah pisang rebus yang biasa dimakan sebagai snack di angkringan sama dengan pisang rebus yang dimakan sebagai pendamping makanan utama di daerah Sulawesi atau Maluku?

Sebagai tinjauan antropologi, buku ini sangat mengecewakan. Tetapi, sebagai penggugah pengetahuan, buku ini cukup lumayan. Paling tidak cerita-cerita menarik, deskripsi makanan yang begitu detil, dan juga tips wisata yang ada, mungkin bisa membangkitkan kesadaran orang bahwa kuliner Indonesia jauh, jauh, jauh, lebih banyak dari sekedar nasi dan gorengan saja.

Ke depannya, saya juga berharap bahwa para penulis bisa mengkaji kuliner Nusantara dengan jauh, jauh, jauh, jauuuh lebih baik, lebih besar, dan lebih luas. (Papua!!)