Tampilkan postingan dengan label dunia buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Agustus 2017

(Severe) Reader's Block : Rant Edition




Urban Dictionary:
"Related to Writer's Block, this is when you cannot, for the life of you, pick up a book and read it. 
Sure, you may be able to read a paragraph or two, or maybe even a page, but you don't retain anything of what you just read or have the attention span and/or will to go on. This is common for those who have ADD, are in possession of garbage literature, or are just so exhausted from having to read so many books during school/college that reading anything else, even for pleasure, has become impossible. To those who love to read, this is worse than heart disease and cancer combined."


untuk seseorang yang "cinta buku" (dan punya blog tentang buku, dengan judul buku..), jumlah buku yang saya baca sangat sedikit. Terlalu sedikit. 
Terutama setahun terakhir ini. Nyaris tidak ada buku baru yang saya baca. Memang ada beberapa buku yang lama yang saya baca ulang, tapi selain itu dan beberapa komik lainnya, tidak ada baru. Saya tidak tahu jelas alasannya, apa karena capek, atau bosan, atau muak. Tapi kemungkinan besar penyebabnya adalah satu: BUKU ITU MAHAL.

Harga buku di Indonesia keterlaluan mahalnya. Kalau beberapa tahun yang lalu harga yang tertera hanya membuat saya masam, tapi akhir-akhir ini melihat harga di toko buku nyaris bikin serangan jantung. 

Dulu, meskipun saya tidak tahu isi buku itu apa dan saya tidak kenal/pernah dengar nama pengarangnya, saya masih bisa cukup nekat untuk beli buku. Kalau bagus, ya untung, kalau nggak, ya sudah, bikin review, lalu sumbang saja bukunya. Tapi sekarang, meskipun itu pengarang favorit saya, dan saya sudah haqul yakin buku itu bakal bagus, saya akan berpikir seribu kali sebelum beli buku itu. Kalaupun ada daftar prioritas, beli buku itu bakal menempati nomor paling bawah, tepat di bawah input daftar: "BERTAHAN HIDUP". Kalau dulu membaca buku adalah menjadi kebutuhan (utama) bagi saya, sekarang harga buku yang mahal membuat membaca buku menjadi keegoisan bagi saya. 

Kenapa harga buku begitu mahal di Indonesia? Panjang cerita tragedinya, mulai dari pajak yang begitu banyak diterapkan oleh pemerintah, harga kertas yang melonjak, hingga monopoli sadis toko buku besar. (lihat: ini dan ini)

Perpustakaan?
meh.
Perpustakaan yang bisa saya datangi (dengan kategori: milik publik, dekat dengan akses transportasi umum, dan berjarak kurang dari satu jam perjalanan) jauh dari kata layak. Orang-orang yang datang ke sana hanya untuk dua hal: Internet gratis dan atau baca koran. Jangankan buku yang update, buku sastra klasik Indonesia saja tidak bisa saya temukan di sana. 

Akhir-akhir ini, saya semakin tidak tahan melihat kampanye-kampenye 'Meningkatkan Minat Baca Indonesia' yang dijalankan pemerintah. Isinya cuman retorika belaka. Omong kosong. Pemerintah gak usah ngeluh, sok bilang 'orang Indonesia malas baca', kalau kenyataannya masih tidak memperdulikan harga buku yang melonjak tinggi. Oke, hebat, bolak-balik kasih penghargaan ke ratusan Pustaka Keliling, tapi seperti melupakan fakta kalau Perpustakaan milik pemerintah sendiri gak pernah diurus dengan benar.

Saya sedih, marah, dan muak. Dan mungkin, luapan emosi ini juga yang membuat Reader's Block saya semakin parah. Meski harus diakui, pada akhirnya, emosi-emosi ini tidak berguna, tetap tidak bisa mengisi dompet saya dengan uang untuk beli buku. 

Untuk sekarang ini, yang bisa saya lakukan hanya menutup telinga dan mata saja setiap ada liputan tentang Kampanye Literasi yang muncul. Dan untuk kutukan Reader's Block, saya sudah berhenti untuk mencoba melawannya. Bukan berarti saya menyerah dan berhenti membaca buku, saya cuman mulai dari hal kecil saja dulu, mengingat kembali rasa sayang saya terhadap buku, waktu yang telah saya habiskan bersama buku, dan apa yang telah mereka berikan kepada saya...
(yes, I'm still talking about books)





-end of rant-

Sabtu, 02 April 2016

Korban Iklan #2

seperti Necker's Cube, selalu tergantung sudut pandangnya..


Masih cerita tentang saya, si korban iklan dunia sinema masa kini.. 

Kasusnya konyol terkadang, misalnya ketika saya jadi keras kepala: sampai sekarang saya belum mau menonton A Most Wanted Man dan Tales From Earthsea hanya karena saya belum menyelesaikan bukunya--dalam kasus Earthsea, seluruh serialnya. Kekonyolan yang tampaknya benar-benar berasal dari sifat snob saya..

Saya tahu kalau yang namanya menjadi korban, apapun itu, bukanlah hal yang baik. Apalagi kalau itu karena godaan untuk pamer dan kebanggaan nyasar. Bagaimanapun juga, tetap saja saat godaan itu melirik, saya jadi korban lagi. Seperti ketika muncul trailer film High-Rise dengan Tom Hiddleston sebagai karakter utama, atau saat The Night Manager, novel lama le Carré dengan adaptasi terbaru dalam bentuk miniserinya, dengan duet Hugh Laurie dan Tom Hiddleston (lagi. oh no..oh yes.)

Tapi kalau dipikir, kasus saya ini tidaklah seluruhnya terlalu buruk, toh bagaimanapun juga, karena alasan apapun juga, saya jadi makin giat membaca.

Bukan, ini bukan pembenaran. Yah..tidak seluruhnya, maksud saya..

Ada beberapa hal baik yang muncul, karya-karya klasik yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, pengarang baru yang talentanya hebat, dan yang paling sering adalah, pengarang lama yang meski sudah sering saya dengar namanya, tapi saya tidak pernah tertarik dengan karyanya.

Seperti dengan Ursula K. Le Guin, pengarang yang konon adalah salah satu inspirasi Neil Gaiman, tapi baru sekarang saya mulai membaca (dan jatuh cinta pada buku pertama) serial mitologi Earthsea nya.

Juga misalnya ketika terdengar berita James Franco akan membintangi miniseri hasil adaptasi novel Stephen King terbaru, 11/22/63. Saya tahu sang pengarang ini, tapi beberapa kali saya berpikir bahwa tipe cerita horor Stephen King tidak akan pernah cocok dengan selera saya. Tapi, James Franco dalam miniseri thriller-sains fiksi tentang time travelling? Akhirnya, asumsi lama saya terbantah setelah saya membaca 11/22/63, dan membuat saya penasaran dengan judul-judul buku lama sang Stephen King.

Atau yang akhir-akhir ini terjadi, 'reuni' saya dengan John le Carré. Gara-gara The Constant Gardener, buku dan filmnya, saya tidak pernah terpikir kembali nama sang penulis mantan agen MI6 ini. Tapi kemudian berubah setelah Tinker, Tailor, Soldier, Spy... kini hati saya dipenuhi intel pensiunan George Smiley, dan Tailor of Panama juga A Perfect Spy sudah menunggu di daftar bacaan.

Jadi, apakah menjadi korban iklan dan kalah dengan godaan dunia sinema adalah hal yang benar-benar buruk? Lagi-lagi, tentu tidak semuanya. Terkadang tergantung niatnya, dan kalaupun niatnya buruk (pamer), bukan tidak mungkin dalam proses membaca, hasilnya malah berubah.

Mengundang pemikiran misalnya, saya terkejut ketika membaca buku asli Children of Men (P.D James) yang ternyata berbeda jauh dengan film adaptasinya. Dan meski saya jauh lebih suka filmnya, tapi bukunya berhasil melengkapi cerita latar belakang sang tokoh utama.

Walau diawali karena godaan iklan, belum tentu juga saya akhirnya benar-benar menonton adaptasinya. Setelah membaca High-Rise, novel distopia klasik karya J.G Ballard, saya agak tidak yakin film adaptasinya akan bisa mencakup semua kegilaan super depresif yang ada dalam bukunya.

Meski mungkin mas Tom akan merubah hal ini sih.

Aih, dunia...

Jumat, 25 Maret 2016

Korban Iklan #1



Sudah bukan berita lagi kalau sinema dan serial televisi beberapa tahun terakhir ini super penuh dengan yang namanya adaptasi dari buku. Banyak faktor pemicunya, mungkin karena lebih gampang, dan yang jelas, resikonya lebih kecil--berhubung sudah punya fans yang jelas--dan ketika ekonomi dunia didera krisis berkali-kali begini, keuntungan pasti adalah hal yang sungguh menggiurkan.

Tapi ini bukan analisa tentang adaptasi versus buku aslinya, tema itu terlalu kompleks, terlalu banyak pendapat berbeda, terlalu ketinggalan jaman. Ini cerita soal gimana saya jadi korban iklan dari godaan-godaan dua dunia itu, dunia sinema dan dunia buku.

Kasus dari segi aktor dan sutradara misalnya, Guillermo del Toro dengan buku trilogi The Strain. Del Toro! otak di balik Pan's Labyrinth nulis novel horor! dan akan jadi serial televisi pula!! Bagaimana mungkin saya menghindari serangan godaan dobel macam ini? 

Lalu sekitar tahun lalu, karena janji adaptasi dengan aktor dan aktris kelas atas: saya maraton membaca buku All You Need Is Kill - Hiroshi Sakurazaka (karena Emily Blunt), Gone Girl - Gillian Flynn (karena Rosamund Pike), Under The Skin (Scarlett Johansson sebagai makhluk luar angkasa, yep.), Before I Go To Sleep - S.J Watson (gara-gara Mark Strong & Colin Firth), juga The Prone Gunman nya Jean Patrick Manchette (salahkan Sean Penn, Idris Elba,dan Javier Bardem..)

aih, dalam statistik manajemen dan public relations pasti saya termasuk 
dalam bagian konsumen gampangan bahan lawakan.. 

Bukan hanya karena saya yang nge-fans para sutradara, aktris, dan aktor ini, tapi juga godaan dalam diri saya, yang susah sekali dibendung: keinginan untuk pamer ketika adaptasinya muncul. Meski dalam kenyataan saya ga punya tempat pamer sih, tapi Ego saya senang sekali ketika bisa menyimpan semacam kebanggaan nakal ini.

Namun ada beberapa dari kasus ini tidak berjalan begitu mulus sebenarnya. Novel The Prone Gunman membuat saya kecewa, begitu juga dengan filmnya, meski sudah digawangi Sean Penn yang juga dibantu dengan Idris Elba dan Javier Bardem.

Dalam kasus The Strain juga (meskipun ini mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi), saking patah hati terhadap buku pertamanya, saya tidak berminat menyelesaikan triloginya, juga tidak berminat menonton serialnya, sekalipun itu karya Guillermo del Toro..

Ketika hal semacam ini terjadi, apakah justru tujuan dari para om dan tante P.R itu justru malah berbalik arah? Tampaknya mereka tidak terlalu peduli dengan hasilnya, selama masih ada orang-orang penasaran dan snob seperti saya yang bakal membaca bukunya ketika dijanjikan adaptasi film/serial, tentu tidak masalah. Apalagi sekarang, ketika strategi ini semakin menggila, bahkan buku yang mungkin belum setahun umurnya, sudah ada godaan terbaru tentang rencana cast atau sutradaranya.

Aih, dunia..

Rabu, 21 Oktober 2015

Dosa dan Denda 1½ Dekade

errr..

Posting ini, tampaknya—harusnya—berfungsi sebagai pengingat di masa depan (semoga).

Jadi, ceritanya dimulai ketika 1½ dekade yang lalu, setelah sepuluh tahun saya menghabiskan waktu di tempat ajaib ini, saya harus pindah ke kota lain dan pulau lain. Buat orang yang pernah pindah rumah, apalagi pindah kota, pasti tahu betapa kacau dan semrawut prosesnya—bahkan untuk pelaku yang saat itu masih belum dewasa. Semua barang harus dibongkar, dipisahkan, diatur, dan ditata untuk dikemas. Melelahkan secara fisik dan emosional. Apalagi ketika berurusan dengan koleksi buku, yang dijamin otomatis akan membuat saya lebih berisik, jauh lebih berisik dari biasanya.

Singkat cerita dan waktu untuk bercerita, 1½ dekade sudah berlalu, dan tempat tinggal itu sudah lama masuk daftar nostalgia buat saya. Seperti pribadi ini, koleksi buku lama saya juga sudah berkali-kali bertumbuh, berkembang, berkurang dan bertambah. Tapi ada hal yang memalukan, sungguh sungguh memalukan. Meski sebelumnya sudah disebut saya adalah manusia yang berisik dan cerewet kalau sudah berurusan dengan buku, tapi tampaknya tingkat kecerewetan ini tidak sama dengan tingkat keterampilan dan ketertiban saya.

Dari koleksi buku yang sudah berpindah tempat ini, baru bertahun-tahun saya sadari bahwa ada 2 buku yang bukan milik saya, tapi milik perpustakaan.

Iyep, entah kenapa tampaknya dalam kesibukan persiapan perpindahan itu, saya masih sempat meminjam dua buku serial Goosebumps dari perpustakaan kantor di dekat rumah saya—atau mungkin sangat sangat lupa untuk mengembalikan. Harap maklum, ini bukan perpustakaan profesional di daerah mentereng.

Karena ini sudah bertahun-tahun lamanya terjadi, di tempat yang sangat jauh, mental cuek dan logika pemalas saya kumat untuk melupakan saja kejadian ini (baca: biarkan saja dua buku itu mendekam di rak bersama yang lainnya). Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada yang dikerjakan selain berpikir, dua buku ini—meskipun hanya serial Goosebumps dan hanya dari perpustakaan kecil itu—juga adalah utang saya. Saya yang meminjam dari perpustakaan tersebut, sudah berjanji untuk mengembalikan, dan janji adalah utang, bukan? Dan saya tidak mau kalau mati nanti, entah kapan, bakal susah hanya karena ada dua buku perpustakaan yang belum saya kembalikan.

Jadi, sudah beberapa minggu terakhir ini saya sudah bolak-balik berpikir bagaimana caranya saya mengembalikan dua buku Goosebumps ini.

Mudah-mudahan saja, mereka tidak repot-repot menghitung dendanya...

err..

5.559 DAYS?! GREAT SCOTT!!

Jumat, 11 September 2015

Solilokui Lili



Tidak terlalu penting memang, tapi akhir-akhir ini saya jadi penasaran dengan apa panggilan yang tepat untuk generasi saya. Generation X? Generation Y?

Generasi yang tumbuh besar dan menjadi dewasa (secara fisik, mental selalu masih dipertanyakan) di antara rentetan perubahan. Kita mengalami masa Perang Dingin, lalu kita melihatnya runtuh. Kita diyakinkan bahwa bumi adalah tempat terbaik, lalu kita diperingatkan bahwa tempat ini akan segera mengalami kehancuran. Kita melihat mesin-mesin baru mengambil alih dunia, dalam kenyataan dan dalam imajinasi. Peraturan adalah hal paling tidak keren, mereka bilang.    

Kalau secara teori, perhitungan matematis, dan diskusi para ahli (baca: Wikipedia), yang paling tepat mungkin adalah Generation Y alias Millenials alias Net Generation, alias Peter Pan Generation, kalau kata sosiolog Kathleen Shaputis.


Meski sebenarnya, saya lebih suka istilah Generation X.
Mereka yang terlahir di antara kericuhan, tetapi menolak untuk mengakuinya sebagai akhir.
Teriakan berontak dan pertanyaan-pertanyaan terdengar dari mereka, walau terdengar bising, tapi tidak pernah berhenti. Mereka dianggap marah, tapi mereka sebenarnya hanya hendak mengatakan kalau harapan itu masih ada. Ya, mereka percaya kalau harapan itu benar-benar ada,
walau mereka terlahir di antara kericuhan, di antara kehancuran yang terlihat di depan mata,
dan walau tidak ada yang meminta agar mereka menjadi harapan itu sendiri.

Saya tidak terlalu terlibat di dunia sosiologi, antropologi, atau sejarah. Istilah apapun yang dipakai untuk identitas generasi saya paling pol juga hanya berakhir di desain kaos atau mug. Bahkan, kalau saya pikir lagi, istilah-istilah itu lebih terdengar seperti label, atau, seperti tuduhan yang ditunjuk ke kami.

Membuat saya marah, sekaligus ingin tertawa terbahak-bahak.


(akibat membaca artikel ini, dan dengan tidak sengaja berpapasan dengan buku-buku motivasional jaman dulu kala yang sudah berdebu, tentu saja.)

Senin, 31 Agustus 2015

Perang (dengan) Pribadi


Beberapa tahun yang lalu, pada saat awal permulaan tahun baru, saya pernah 'iseng' bikin proyek membaca, untuk saya sendiri.

Itu adalah proyek membaca yang pertama kali saya buat, karena beberapa kebetulan sebenarnya.  Kebetulan karena saya baru sadar betapa banyaknya buku klasik yang belum sempat saya baca. Kebetulan karena saya baru menemukan gudang e-book gratis tersebut di feedbooks. Dan kebetulan juga karena saat itu saya butuh pelarian dari skripsi... :p

Maka dimulailah proyek membaca buku klasik. Tahun itu akan menjadi tahun dimana saya akan menyelesaikan membaca seluruh karya literatur klasik itu. Tahun dimana saya jatuh cinta pada Oscar Wilde, memutuskan bahwa Jane Eyre adalah cewek yang lebih hebat daripada Elizabeth Bennet, dan tahu bahwa ternyata banyak karya klasik yang sebenarnya biasa saja.

Tapi saya tidak pernah cocok dengan peraturan. Dan sungguh, gratis atau tidak gratis, membaca e-book itu bikin mata lebih cepat capek daripada buku biasa. Di akhir tahun, dari sekian ratus buku klasik yang jadi target, mungkin tidak sampai setengahnya yang berhasil saya selesaikan.

Awalnya saya merasa sedikit kesal dengan diri saya sendiri karena gagal memenuhi target tersebut, tapi akhirnya saya merasa kesal justru karena membuat target tersebut.

Saya membaca karya-karya klasik tersebut hanya karena ingin menyelesaikan proyek saja, bukan karena benar-benar ingin membaca. Sedih rasanya ketika saya sadar bahwa dari ratusan buku klasik itu, hanya sedikit yang benar-benar saya ingat (dan nikmati) isinya.

Proyek bodoh itu membuat saya membaca, dan membaca, lalu cepat-cepat menyelesaikan membaca supaya bisa segera membaca buku berikutnya. Seperti tugas sekolah saja.

Daftar unfinished classics itu memang masih mengganggu saya. Tapi saya tidak berminat untuk meneruskan proyek membaca itu, ataupun membuat yang baru. Toh tidak akan ada polisi yang menangkap saya kalau buku-buku itu belum selesai saya baca.

Seperti biasa, hanya gengsi dan kesombongan saya saja yang selalu berisik. Ini menyebalkan.

Saya tidak ingat (dan tidak ingin) punya alasan membaca hanya karena untuk membuat daftar tebal, memberi kesan baik, atau mengalahkan orang lain. Itu sungguh menyedihkan.

Saya suka membaca karena saya suka membaca. Titik.
Kalau memang ada hal-hal baru yang saya temukan pada saat membaca, ya untung. 
Kalau tidak, ya sudah.

Yah, ini peraturan yang saya coba buat, dan tidak tahu, apakah ke depannya akan membuat saya kembali tergoda untuk melanggarnya.

ahahah.

Jumat, 14 Agustus 2015

ライトノベル? Light novel? Novel ringan?

Kino no Tabi (Keiichi Sigsawa, Kouhaku Kuroboshi)


Istilah light novel (ライトノベル : raito noberu) tidak akan kamu temukan di kamus bahasa Inggris manapun juga. Ini hanyalah sebuah istilah yang diciptakan di dunia perbukuan di negara Jepang.

Light novel (LN) atau ranobe tidak banyak berbeda dengan buku biasa, namun ada beberapa karakteristik tertentu yang menjadi ciri khas dari genre ini. Light novel, sesuai dengan artinya, biasanya hanya terdiri dari 30.000 - 50.000 kata, atau sekitar 100 - 200 halaman.

Yang menjadi ciri utama adalah isi light novel selalu ditemani dengan ilustrasi, tapi tidak sampai penuh seperti manga (komik Jepang), dan tidak juga terlalu sedikit sampai seperti buku novel lainnya. Light novel juga bisa hadir dalam serial, seperti Baccano! (Ryōgo Narita, Katsumi Enami) yang sudah berlanjut hingga 21 volume dan masih berlanjut hingga sekarang.

Penulis dan ilustrator dari light novel biasanya orang yang berbeda, meski kadang ada juga penulis yang melakukan ilustrasinya sendiri. Jika light novel ini adalah adaptasi dari sebuah serial manga/anime, maka kemungkinan akan lebih banyak lagi pihak yang dilibatkan.

Light novel pada awalnya ditargetkan khusus untuk anak-anak sampai remaja awal, tapi jangan kira ceritanya selalu simpel seperti buku dongeng bergambar..

Rating dari light novel, seperti halnya manga, juga sangat bervariasi. Light novel bisa berisi drama petualangan biasa, science fiction dan komedi seperti pada serial .hack, tapi juga bisa penuh dengan kekerasan dan dark comedy, atau filosofi hidup, yang ditargetkan lebih untuk orang dewasa seperti Kino no Tabi, All You Need Is Kill (Hiroshi Sakurazaka, Yoshitoshi ABe), atau Attack on Titan: Before The Fall (Ryō Suzukaze, Thores Shibamoto).

Keterkaitan antara dunia manga/anime dan light novel sangatlah erat. Sebuah light novel bisa merupakan adaptasi dari anime/manga terkenal, seperti Death Note atau Rurouni Kenshin; dan tidak jarang juga vice versa.

Beberapa tahun terakhir ini, kepopuleran light novel tampaknya semakin meningkat, tidak hanya di Jepang, namun juga negara-negara dimana potensi pasar anime dan manga sangat tinggi, termasuk Indonesia. Light novel--yang merupakan bentuk evolusi dari pulp magazine--mulanya dijual dengan harga yang murah. Namun dengan munculnya judul terkenal seperti serial Haruhi Suzumiya (Nagaru Tanigawa, Noizi Ito)--yang cetakan pertamanya untuk volume 10 dan 11 saja sudah melampaui 500.000 buah--'kelas' light novel tampaknya semakin meningkat, demikian pula harganya.

Di Indonesia, sekitar tahun 2000-an awal, penerbit Elex Media Komputindo pernah memunculkan beberapa judul terjemahan light novel, seperti God Family karya Sayangnya genre ini tidak begitu laris di pasaran kala itu.

Tetapi, makin ramainya buku-buku remaja sekarang ini, dan juga meningkatnya permintaan akan light novel, tampaknya potensi bentuk literatur ini sungguh sangat bisa dipertimbangkan kembali.

Ada beberapa alasan.

Ranobe bukan hanya bentuk genre literatur lain. Dengan makin ramainya kebiasaan adaptasi, light novel bisa menjadi bahan pelengkap detil kisah, seperti Baccano! yang ramai dengan plot twist dan puluhan karakter berbeda. Atau bisa juga menjadi bahan perbandingan, seperti All You Need Is Kill, yang ceritanya telah dirubah sedemikian rupa oleh Hollywood menjadi film Edge of Tomorrow. Untuk merek populer seperti Death Note, Inuyasha, Naruto, atau Attack on Titan, 'kesetiaan' para fans untuk mengkoleksi berbagai cerita dalam dunia fiksi favoritnya bisa menjadi lahan menjanjikan bagi para penerbit besar maupun kecil.

Light novel Attack on Titan: Before The Fall yang barusan dirilis tampaknya laku berat di pasaran, dan ada juga beberapa bisikan tentang akan segera rilisnya LN Naruto - Kakashi Hidden Legend: Lightning of The Frozen Sky, dan Absolute Duo beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, ramainya animo light novel ini mengingatkan saya akan beberapa tahun yang lalu, ketika berbagai judul manga untuk berbagai umur semakin laris. Jika penerbit hanya memperhatikan potensi pasar saja, dan tidak memperhatikan dengan baik rating dan isi cerita sebenarnya, kasus beberapa tahun lalu seperti komik 'porno', penerbit tanpa lisensi, dan protes serta sterotip yang salah dari masyarakat--bisa muncul kembali. Bahkan mungkin lebih parah.

Dan kalau sudah begini yaa... klasik.
Tanggung jawab bukan hanya di penerbit dan toko buku saja loh. Orang tua jangan ketinggalan jaman, dan juga harus selalu sadar benar, ilustrasi 'imut' yang ada di sampul buku bukan selalu berarti ceritanya juga untuk anak-anak imut..

Selasa, 11 Agustus 2015

Gagal Ajaib

Ini cerita ajaib yang sayangnya gagal terjadi. Semuanya bermula dari tanda tangan di sebuah buku bekas...

Yang pernah tinggal, lewat, mendengar atau membaca tentang kota Medan pasti tahu tentang Titi Gantung. Jembatan khas yang letaknya dekat stasiun kereta api, selain terkenal karena umurnya yang sudah 130 tahun lebih, juga karena Titi Gantung adalah 'surga' bagi para pemburu buku-buku bekas dan langka.

Ketika keluarga saya masih tinggal di Medan dan lama sebelum masa penggusuran para pedagang buku, tempat ini adalah salah satu tempat favorit ayah saya. Banyak 'harta' yang ditemukan di tempat ini, dan tentu saja, saya yang lagi girang-girangnya membaca juga turut kebagian harta-harta ini.

Salah satunya adalah buku dongeng klasik terbitan Gramedia tahun 1985 berjudul Burung Emas dan Cerita-cerita Lainnya (L'Oiseau D'or et Autres Contes)

Buku kumpulan dongeng ini kemudian menjadi salah buku favorit saya. Karena bukan hanya ceritanya yang berbeda dengan dongeng 'anak-anak' lainnya, ilustrasinya juga sangat indah, karya dari ilustrator terkenal Adrienne Segùr.



Bertahun-tahun kemudian, buku itu masih saya simpan aman di rak buku kamar saya. Suatu pagi, setelah lama tak disentuh, saya iseng membuka buku itu kembali. Halaman pertama, terlihat sebuah tanda tangan, mungkin pemilik awal dari buku bekas ini.

Cecilia.

Saya punya teman bernama Cecilia. Bertemu saat kuliah, dia dari Jakarta.

Ahahah, yang benar saja..

Tapi karena bosan, saya coba memperhatikan tanda tangan itu lagi, teringat bahwa teman saya juga barusan mengirimkan sebuah kartu pos.

Ternyata...

yang kiri adalah dari buku (sengaja tidak semuanya ditampilkan..)


Kemiripan ini terlalu dekat.

Tapi sebentar--identitas orang dewasa saya mencoba membawa logika--Cecilia bukan nama yang tidak umum, dan tanda tangannya cukup sederhana.

Kemiripan ini terlalu dekat..

Yang benar saja, dua anak di kota berjarak ribuan kilometer, dan dalam jangka waktu 15 tahun?

Kemiripan ini terlalu dekat!!

Identitas orang dewasa saya kalah oleh jiwa impulsif saya yang sangat tidak percaya kebetulan. (dan mungkin juga jiwa saya yang lagi sangat bosan)

Ini mungkin hanya kemungkinan, tapi kalau kemungkinan itu adalah sebuah kemungkinan akan sebuah keajaiban, tentu harus dikejar!

Saya kemudian menghubungi teman saya itu, bertanya apakah saat kecil dia pernah punya buku dongeng berjudul Burung Emas.

Dan jawabannya adalah...

Tidak pernah.

(pada titik ini, identitas orang dewasa saya tertawa terbahak-bahak.)

Kemungkinan akan adanya sebuah keajaiban: gagal.
------------

ah, bien.. c'est la vie.

Sayang sekali memang, dan bohong kalau saya bilang saya tidak kecewa (lebih kecewa karena harus bosan kembali).

Tapi sungguh, saya tidak sedih. Meski sebuah cerita tentang keajaiban dari sebuah buku dongeng klasik akhirnya gagal, tapi saya rasa saya tidak kehilangan apapun.

Ketika saya membandingkan kedua tanda tangan itu, keterkejutan itu sempat membuat napas saya berhenti. Dan kemungkinan akan sebuah keajaiban itu, sempat membuat otak saya menciptakan probabilitas-probabilitas, rencana-rencana, strategi-strategi, logika-logika. Kejadian itu juga menghasilkan sebuah tawa, dan sebuah rasa dimana dunia saya seakan bertambah luas.

Mungkin hanya sepersekian detik hal ini terjadi, tapi waktu adalah relatif, dan sepersekian detik akan sebuah kemungkinan keajaiban ini saya rasa sudah cukup untuk mengobati gagalnya sebuah keajaiban tersebut.

Kamis, 06 Agustus 2015

Bukan Umurmu [Saga: Identitas Komik #2]

(Artikel ini merupakan bagian dari saga Identitas Komik)

Good grief!

 "wah, saya sih gak suka baca buku. Palingan komik.."

"udah gede kok baca komik terus."

Anggapan-anggapan ini membuat saya agak bingung sebenarnya. Apakah yang dianggap buruk adalah karena isi dari komiknya, atau semata-mata karena komik penuh dengan gambar..

Sindiran semacam ini juga semakin membuat saya yakin kalau bahkan sampai sekarang, komik masih diasosiasikan dengan anak kecil. Ada semacam harapan, atau mungkin generalisasi norma; kalau pintar adalah dengan membaca buku, dan buku adalah lembar-lembar tulisan yang dijilid--bukan panel-panel gambar.

Komik, alias buku bergambar, tidak akan membuat otak berkembang. Isinya terlalu gampang, bahkan akan membuat otak rusak. Sebuah mitos yang tidak pernah terbukti dengan jelas sampai sekarang.

Komik sama saja seperti buku lain, 'nasib' dari isi seluruhnya ada di tangan sang pengarang. Hanya kemampuan sang pengarang sendiri--dalam meletakkan panel gambar dan kalimat sesuai timing, yang kemudian bisa menentukan apakah komik tersebut kemudian berhasil menyampaikan apa yang ada dalam hati dan pikiran sang pengarang.

Untuk alasan tentang isi komik, saya bisa kasih argumen yang jelas untuk itu. Tidak semua komik adalah cerita untuk anak-anak. Ini fakta yang sebenarnya sudah lama ada, namun (karena banyak faktor) tidak terlalu dipedulikan di masyarakat.

Meski tidak ada hal perihal seperti kekerasan atau nudity yang perlu dikhawatirkan, cerita dari beberapa komik terkadang terlalu 'kelam', atau simpel saja, kemungkinan besar tidak akan menarik untuk umur belia. Misalnya komik slice-of-life seperti Solanin (Inio Asano), komik filsafat seperti Epileptik (David B.), komik tante-tante seperti Kimi wa Petto (Yayoi Ogawa), atau komik--yang meski setting-nya luar angkasa di masa depan, tapi njelimet macam Planetes (Makoto Yukimura).

Biarpun tokohnya sendiri adalah anak-anak atau makhluk antropomorfik yang 'imut', cerita seperti Mafalda (Quino), Dommel/Cubitus (Dupa), atau serial Peanuts dari Charles M. Schultz juga bisa penuh dengan sindiran satir pada sejarah, politik, dan budaya. Dan biar bentuknya adalah komik strip, jangan kira ekspresi mereka sungguh gamblang dan sederhana.

Ketika saya kuliah, seringkali dosen saya menggunakan kutipan dari komik strip Peanuts sebagai bahan diskusi di kelas, baik itu di kelas ilmu politik, sejarah, atau filsafat. 'Pelajaran hidup', jujur saya katakan, lebih banyak saya dapat dari komik seperti Planetes, Alien Street, Peanuts, Aria, atau Yotsuba&!

Jadi, apakah saya terlalu tua untuk baca komik?

Jumat, 03 Juli 2015

Saga: Identitas Komik

"... Komik menurutku bukan buku. Ia lebih tampak seperti sebuah TV tanpa kabel listrik, tidak bergerak dan tidak bersuara. ..."
Taman Sunyi Sekala - Aida Vyasa



?!


Pernyataan seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali terdengar, namun seperti sudah merupakan pandangan lumrah yang ada di masyarakat. Identitas yang diberikan kepada komik tampaknya lebih inferior dibandingkan jenis 'buku' yang lain.
Jika membaca adalah hal yang baik karena menstimulasi otak dengan aktivitasnya menginterpretasikan huruf-huruf dalam tulisan menjadi wujud nyata (Otak Kata), apakah hal yang sama tidak bisa dikatakan dengan membaca komik?

Masalah-masalah tersebut yang akan kita bahas dalam saga kali ini. Apakah komik, hanya karena lebih banyak berisi gambar daripada tulisan, tidak boleh disetarakan sama dengan buku? Apakah benar komik tidak bermanfaat sama sekali?

Dengan menggunakan kata 'komik' dalam saga artikel ini hanyalah untuk kemudahan sementara. Tentu bukan maksud saya untuk menggeneralisasikan semua jenis komik. Komik superhero Amerika, komik silat, komik strip, novel grafis, pasti tidak bisa disamakan dengan manga atau manhwa (yang mungkin juga akan kita bahas tersendiri ;)

Jadi, mari kita mulai saga ini!!

YOSH!

(Artikel ini merupakan bagian dari saga Identitas Komik)

Sabtu, 27 Juni 2015

Otak Kata [Saga: Identitas Komik #1]

(Artikel ini merupakan bagian dari saga Identitas Komik)




Beberapa minggu terakhir ini, saya sudah beberapa kali membaca (atau sekedar melihat) artikel-artikel online tentang efek membaca terhadap otak dan kepribadian kita. Anjuran-anjuran lama untuk 'banyak membaca buku adalah hal yang baik', tampaknya tidak terlalu salah. 

Paling tidak menurut artikel-artikel ini...

Hmm, saya akan tampilkan beberapa rangkumannya.

Para orang pintar yang disebut peneliti saraf ini, telah lama mempelajari apa yang sebenarnya dilakukan otak ketika kita membaca. Jangan bayangkan imaji otak yang bekerja keras seperti mesin pabrik industrial, kalau dilihat dari hasil penelitian mereka ini, kerja otak mungkin lebih seperti seorang drummer dalam sebuah konser jazz.

Ketika membaca sebuah tulisan, kerja otak bukan hanya mengartikan kata-kata dalam tulisan itu, tapi juga berusaha menginterpretasikan tulisan tersebut menjadi 'kenyataan'. Otak akan mengaktifkan dan menghubungkan berbagai bagian otak, seperti bagian visual, bagian aroma, bagian kepekaan, dll.

Menurut Véronique Boulenger, seorang peneliti kognitif dari Laboratory of Language Dynamics di Prancis, sebegitu berusahanya otak untuk 'menciptakan' kata-kata tertulis menjadi sedekat mungkin dengan kenyataan, hingga bahkan ketika otak membaca kalimat seperti "Pablo menendang bola"; otak akan mengaktifkan motor cortex, yaitu area otak yang mengkoordinasi gerakan tubuh. (The Brilliant Blog)

Stimulasi-stimulasi yang dilakukan otak ketika kita membaca bisa dibilang sama seperti--atau paling tidak hampir sama--ketika kita benar-benar mengalami kejadian itu sendiri.

Ketika kita membaca sebuah cerita, atau tulisan, bagian jaringan otak yang aktif juga sama seperti ketika kita sedang berusaha untuk memahami perasaan orang lain. (Annual Review of Psychology, 2011)

Karena segala metafora yang ada, juga dengan 'dunia yang jauh berbeda', maka usaha interpretasi yang dilakukan otak akan lebih tinggi ketika yang kita baca adalah tulisan fiksi. Hal ini kemudian menyebabkan beberapa peneliti menyimpulkan kalau para penggemar fiksi adalah orang-orang yang lebih empatis, lebih gampang memahami perasaan dan pikiran orang lain.

Tapi benarkah itu?
Bisakah hasil penelitian ini kemudian didasarkan pada semua jenis buku?