Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2016

Lelaki Harimau | Review

Lelaki Harimau

Eka Kurniawan, 2004
Gramedia Pustaka Utama
ISBN13 9786020307497



Tidak seperti yang saya harapkan. Malahan, lebih baik daripada yang saya harapkan.

Di halaman-halaman awal, paragrafnya yang penuh dengan sub-kalimat, dan juga POV yang beragam, terus terang mengingatkan saya sama novelnya Gabo. Meskipun bukan saya saja yang berpikir seperti ini, tapi sesungguhnya Eka Kurniawan punya gayanya sendiri. Bahasanya juga apik, dan membuat saya sedikit 'kasihan' dengan orang luar yang membaca buku terjemahannya.

Ceritanya bukan tentang Margio saja, yang membunuh Anwar Sadat dengan cara kejam tak terbayangkan, tetapi hampir tentang semua orang yang berputar dalam kehidupannya, mulai dari orang kampung sekitar, teman-temannya, ayah, ibu, hingga janda tua pemilik tanah setengah desa.

Sebenarnya, di tengah buku saya agak tak sabaran, dengan semua sub-sub-cerita itu, timeline yang kadang melompat-lompat maju mundur kiri kanan, dan salah ketik yang meninggalkan tanda ¬.

Kemudian saya akhirnya sadar bahwa kisah dan latar belakang para tokoh ini kemudian berputar, membentuk suatu motif kenapa Margio, suatu hari di tengah sore yang sepi itu, membisikkan beberapa kata kepada Anwar Sadat sebelum mengigit urat lehernya hingga putus.

Harimau itu mungkin sudah terpendam di dalam hati banyak orang, tetapi Margio-lah yang membiarkannya keluar..

Sabtu, 02 April 2016

Korban Iklan #2

seperti Necker's Cube, selalu tergantung sudut pandangnya..


Masih cerita tentang saya, si korban iklan dunia sinema masa kini.. 

Kasusnya konyol terkadang, misalnya ketika saya jadi keras kepala: sampai sekarang saya belum mau menonton A Most Wanted Man dan Tales From Earthsea hanya karena saya belum menyelesaikan bukunya--dalam kasus Earthsea, seluruh serialnya. Kekonyolan yang tampaknya benar-benar berasal dari sifat snob saya..

Saya tahu kalau yang namanya menjadi korban, apapun itu, bukanlah hal yang baik. Apalagi kalau itu karena godaan untuk pamer dan kebanggaan nyasar. Bagaimanapun juga, tetap saja saat godaan itu melirik, saya jadi korban lagi. Seperti ketika muncul trailer film High-Rise dengan Tom Hiddleston sebagai karakter utama, atau saat The Night Manager, novel lama le Carré dengan adaptasi terbaru dalam bentuk miniserinya, dengan duet Hugh Laurie dan Tom Hiddleston (lagi. oh no..oh yes.)

Tapi kalau dipikir, kasus saya ini tidaklah seluruhnya terlalu buruk, toh bagaimanapun juga, karena alasan apapun juga, saya jadi makin giat membaca.

Bukan, ini bukan pembenaran. Yah..tidak seluruhnya, maksud saya..

Ada beberapa hal baik yang muncul, karya-karya klasik yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, pengarang baru yang talentanya hebat, dan yang paling sering adalah, pengarang lama yang meski sudah sering saya dengar namanya, tapi saya tidak pernah tertarik dengan karyanya.

Seperti dengan Ursula K. Le Guin, pengarang yang konon adalah salah satu inspirasi Neil Gaiman, tapi baru sekarang saya mulai membaca (dan jatuh cinta pada buku pertama) serial mitologi Earthsea nya.

Juga misalnya ketika terdengar berita James Franco akan membintangi miniseri hasil adaptasi novel Stephen King terbaru, 11/22/63. Saya tahu sang pengarang ini, tapi beberapa kali saya berpikir bahwa tipe cerita horor Stephen King tidak akan pernah cocok dengan selera saya. Tapi, James Franco dalam miniseri thriller-sains fiksi tentang time travelling? Akhirnya, asumsi lama saya terbantah setelah saya membaca 11/22/63, dan membuat saya penasaran dengan judul-judul buku lama sang Stephen King.

Atau yang akhir-akhir ini terjadi, 'reuni' saya dengan John le Carré. Gara-gara The Constant Gardener, buku dan filmnya, saya tidak pernah terpikir kembali nama sang penulis mantan agen MI6 ini. Tapi kemudian berubah setelah Tinker, Tailor, Soldier, Spy... kini hati saya dipenuhi intel pensiunan George Smiley, dan Tailor of Panama juga A Perfect Spy sudah menunggu di daftar bacaan.

Jadi, apakah menjadi korban iklan dan kalah dengan godaan dunia sinema adalah hal yang benar-benar buruk? Lagi-lagi, tentu tidak semuanya. Terkadang tergantung niatnya, dan kalaupun niatnya buruk (pamer), bukan tidak mungkin dalam proses membaca, hasilnya malah berubah.

Mengundang pemikiran misalnya, saya terkejut ketika membaca buku asli Children of Men (P.D James) yang ternyata berbeda jauh dengan film adaptasinya. Dan meski saya jauh lebih suka filmnya, tapi bukunya berhasil melengkapi cerita latar belakang sang tokoh utama.

Walau diawali karena godaan iklan, belum tentu juga saya akhirnya benar-benar menonton adaptasinya. Setelah membaca High-Rise, novel distopia klasik karya J.G Ballard, saya agak tidak yakin film adaptasinya akan bisa mencakup semua kegilaan super depresif yang ada dalam bukunya.

Meski mungkin mas Tom akan merubah hal ini sih.

Aih, dunia...

Senin, 21 Maret 2016

The Secret Garden | Review


The Secret Garden

Frances Hodgson Burnett, 1911
E-book dari Project Gutenberg (bisa diambil di Feedbooks)
235 halaman

Seminggu kemarin saya 'dibombardir' dengan buku-buku yang hampir semuanya bikin capek kepala, mulai dari The Night Manager (John le Carré) yang akhirnya selesai, Lolita (Vladimir Nabokov) yang penuh imoralitas, dan High-Rise (J.G Ballard) yang bertema distopia dan juga penuh dengan imoralitas manusia.

Karena itu mungkin ketika memutuskan untuk baca buku berikutnya, alam bawah sadar saya bergerak ke The Secret Garden, karya klasik Frances Hodgson Burnett.

Setelah lama ditinggal begitu saja di tumpukan, akhirnya coba mulai baca lagi, mungkin tindakan bawah sadar ini juga gara-gara lihat adaptasi filmnya yang tahun 1993.

Awalnya saya kira bakal seperti A Little Princess--berhubung pengarangnya sama, dengan setting waktu dan tempat yang kurang lebih sama--soal anak perempuan bangsawan yang tiba-tiba jadi yatim piatu dan harus memulai hidup baru di tempat yang asing sama sekali.

Tapi Mary Lennox sama sekali berbeda dengan Sara Crewe di A Little Princess, bisa dibilang seperti antithesisnya malahan. Mary Lennox adalah anak manja, kasar, tidak pernah tersenyum, kurang ajar, dan sering merendahkan orang lain.

Ia dibesarkan dengan orangtua yang tidak pernah hadir dalam kehidupannya, seorang ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, dan seorang ibu--yang tidak pernah menginginkan anak perempuan--sibuk berpesta dan bersenang-senang dengan para teman aristokratnya. Mary hidup di antara para pelayan, yang tidak peduli dengan perasaannya, selalu tunduk pada keinginannya, yang penting dia tidak ribut dan tidak mengganggu atasan mereka, memsahib, sang Nyonya besar.

Jadi meskipun sebenarnya tidak ada alasan sama sekali untuk menyukai tokoh ini, karakter Mary bukan sepenuhnya salahnya sendiri. Mary membenci orang-orang karena dia pikir orang-orang membenci dirinya, dan menganggap itu sebagai hal yang lumrah.

Namun, anak manja sekalipun tetaplah seorang anak..

Kehidupan Mary kemudian berubah ketika wabah kolera menyerang tempat tinggalnya di India, membunuh kedua orangtuanya, dan membuat para pelayan yang masih hidup lebih memilih untuk meninggalkan tempat itu. Ia kini harus tinggal di tempat asing, Inggris, dengan walinya (sang paman, Archibald Craven, yang tampaknya juga tidak terlalu peduli dengan dirinya), di sebuah rumah besar yang dikelilingi moor.

Di tengah ketidakpedulian orang-orang sekitarnya, dan kekosongan yang ditawarkan rumah nan besar dan padang rumput yang hampa, Mary tidak punya pilihan lain selain mengembara di halaman taman yang mengelilingi properti pamannya itu.

Diawali oleh pertemuan dengan seekor burung robin, dan cerita-cerita tentang sebuah taman yang terkunci, Mary menemukan bahwa di tempat muram seperti itu, ada begitu banyak rahasia yang tersembunyi, dan ternyata untuk menyukai sesuatu tidaklah begitu susah.

Kisah dan misteri di dalam The Secret Garden dipaparkan dengan mulus, berbanding lurus juga dengan perubahan karakter utama Mary. Salah satu misteri yang terbuka adalah tentang Colin Craven, sepupu dari Mary yang keberadaannya disembunyikan semua orang.

Pertemuan dengan Colin adalah titik penting dalam perubahan karakter Mary. Colin yang bertemperamen buruk, memiliki masa lalu yang kelam, dan dijauhi semua orang, membuat Mary secara tidak langsung melihat karakter buruk yang dulu dimiliki dirinya.

Namun dengan semua perubahan itu, ketika tokoh Colin terungkap, cerita kemudian berpindah fokus. Memang, latar belakangnya masih berputar pada Secret Garden; tapi Mary Lennox sang tokoh utama kini hanya berperan sebagai tokoh pendukung, nyaris terlupakan.

Saya cukup mengerti tokoh Colin, sang raja cilik yang dibesarkan dengan pikiran bahwa ia tidak memiliki harapan sama sekali dan kematian penuh siksa akan segera mengunjungi dirinya. Saya mengerti, bahkan dengan segala kesombongan yang dimilikinya, tetapi Mary Lennox kini adalah sosok yang berbeda.

Dari awal kisah saya mengikuti perubahannya, dari bocah manja tukang marah menjadi anak yang penuh harapan. Rasanya tidak puas ketika seluruh cerita kemudian berputar kepada Colin yang berusaha keluar dari kamarnya untuk pertama kali, Colin yang masuk ke taman rahasia milik almarhum ibunya, Colin yang belajar berjalan, Colin yang kemudian bahagia dengan ayahnya, Colin yang kemudian disemangati oleh semua orang.

Memang, Mary juga bahagia dengan hal ini. Tapi saya tetap merasa tidak adil ketika buku berakhir begitu saja..

Sabtu, 12 Maret 2016

Lolita | Review


Lolita

Vladimir Nabokov, 1955
Anton Kurnia (penerjemah)
Serambi, September 2009
526 halaman
ISBN13 9789791112864

Buku ini bisa dibilang adalah monolog dari Humbert Humbert, berisi tentang pengakuannya kepada para juri (pengadilan?). H.H ditangkap karena pembunuhan terhadap Clare Quilty, dia kemudian menjelaskan hal ini. Semuanya berawal, berfokus, dan berakhir kepada satu gadis: Lolita

Pengakuan ini, tentang pembunuhan, tentang obsesi tidak pantasnya terhadap para 'peri asmara' (nymphets, kalau di naskah Inggrisnya)--anak perempuan yang berumur 9-14 tahun--juga berbagai kejahatan lainnya, nyaris tanpa rasa bersalah sedikit pun, tapi juga tanpa usaha untuk menjustifikasi perbuatannya.

Seram? tentu saja seram. Humbert Humbert menggambarkan dengan cukup detil rasa sayang dan cintanya terhadap Lolita, dan bagaimana sang gadis baru puber itu berhasil membuatnya tergila-gila. Berbagai skenario berputar di kepala H.H untuk mendapatkannya, mulai dari rencana pembunuhan, rencana 'percintaan'nya, hingga percobaan obat tidur untuk membius sang korban.

Pengakuan Humbert Humbert mengingatkan saya pada tokoh Hans Beckert dalam film M (1931, Fritz Lang, wajib ditonton). Keduanya sama-sama pedofil, namun dengan alasan dan tujuan yang berbeda, H.H mendekati para anak gadis karena kecintaannya, sementara Hans Beckert membunuh para anak gadis karena 'keharusan' yang ada dalam dirinya. Dalam film itu, ketika tokoh Hans Beckert akhirnya tertangkap, ia melanturkan sebuah monolog tak terlupakan--yang menurut saya adalah salah satu yang terbaik dalam sejarah film:

"I can’t help what I do! I can’t help it, I can’t…What do you know about it? Who are you anyway? [...] But I… I can’t help myself! I have no control over this, this evil thing inside of me, the fire, the voices, the torment! … It’s there all the time, driving me out to wander the streets, following me, silently, but I can feel it there. It’s me, pursuing myself! I want to escape, to escape from myself! But it’s impossible. I can’t escape, I have to obey it. [...]"

Sepanjang film itu, rasa jijik dan kebencian terhadap tokoh Hans Beckert begitu memuncak, namun hal ini sedikit goyah ketika ia begitu jujur berkata tentang ketidaksanggupannya untuk menahan dirinya sendiri.

Humbert yang sebegitu santainya melemparkan humor disana-sini justru membuat buku ini semakin seram. Ada sensasi rasa dingin yang nyaris tidak berhenti mengalir di tulang punggung saya ketika membaca buku ini. Bukan karena kejahatan H.H yang begitu 'sakit', tapi justru karena saya, tanpa sadar, bisa memahami, bahkan nyaris bersimpati, dengan si tokoh pedofil ini..



What do you know about it? Who are you anyway??

Selasa, 08 Maret 2016

Night Flight | Review

Night Flight



Elex Media Komputindo
ISBN13 9789792777710
 
 
Novel grafis ini diadaptasi dari buku Antoine de Saint-Exupéry, sang pengarang Le Petit Prince yang sudah terkenal akan cintanya kepada dunia aviasi. 
 
Pada awal abad ke-21, pesawat terbang adalah penemuan terbaru yang merubah pergerakan dunia ketika itu. Kecepatan dan waktu singkat menjadi premis berarti dalam dunia bisnis.
 
Night Flight bercerita tentang perusahaan pos udara yang beroperasi di daerah Amerika Selatan, dengan rute Patagonia, Chile, Argentina dan Paraguay. Untuk mengejar waktu (dan menambah keuntungan), penerbangan malam pun digerakkan. Di daerah dengan iklim dan cuaca yang susah ditebak, dan masa ketika radar belum dikenal dunia navigasi, bisa dibilang penerbangan malam adalah tantangan terberat seorang pilot pesawat. 
 
Kisah ini berfokus pada dua karakter, Riviere, sang pemilik usaha pos udara yang mementingkan perusahaannya, dan menganggap bahwa kerja keras semua pihak adalah hal terpenting dalam mencapai keberhasilan itu. Karakter kedua adalah Fabien, pilot yang terbang dari Patagonia, meskipun baru memulai kehidupan berkeluarga, namun tetap berusaha berdedikasi dengan pekerjaannya yang berbahaya. 
 
Ketika badai hujan dan angin kencang mengancam para pilot penerbangan malam, kedua karakter ini kemudian dipertemukan dalam pertanyaan besar akan apakah profesionalitas pekerjaan mereka cukup berharga untuk dibayar dengan nyawa.
 
Novel grafis ini merupakan bagian dari Manga de Dokuha, serial buku yang mengangkat karya-karya sastra dari penulis besar di dunia, dan memodifikasinya dalam bentuk komik. Karena tujuan dari serial ini adalah agar karya-karya tersebut bisa lebih gampang dipahami, maka tentu ada beberapa 'perubahan' yang harus dilakukan, salah satunya adalah pemotongan beberapa narasi, dialog, dan juga jalan cerita. 
 
Yah, ketika perubahan itu dilakukan kepada tulisan Antoine de Saint-Exupéry, saya jadi rada nyesek. Narasi Saint-Exupéry adalah salah satu yang terbaik, dan ketika dirubah menjadi gambar, rasanya tidak akan sama. 
 
Gaya manga yang diterapkan juga terasa janggal di beberapa bagian cerita ini. Seperti ekspresi wajah, dan desain karakter yang agak tidak pas dengan latar belakang tempat. Tapi terlepas dari itu, versi buku ini terhitung lumayan, terutama dalam menggambarkan tekanan batin sang bos, Riviere. Dan juga lumayan, karena paling tidak berhasil dalam membuat saya penasaran dan ingin mencari buku aslinya, atau buku terjemahannya kalau masih ada. 

Selasa, 01 Maret 2016

Pada Suatu Hari Nanti & Malam Wabah | Review


Pada Suatu Hari Nanti & Malam Wabah

Sapardi Djoko Damono, Juni 2013
200 halaman
ISBN13 9786027888401



Buku kumpulan cerita ini dibagi dua, bagian Pada Suatu Hari Nanti merupakan retelling SDD akan dongeng-dongeng yang sudah lama dikenal masyarakat, mulai dari Rama-Sita hingga si Kancil. Sedangkan Malam Wabah bisa dibilang adalah kebalikannya, bagian ini merupakan usaha SDD untuk menciptakan dongeng dan kisah tersendiri dari detil-detil kecil--terkadang nyaris terlupakan--yang ada di kehidupan 'biasa'.

Meskipun terlihat seperti dua sisi yang berbeda, ada satu persamaan yang terlihat, baik itu legenda lama atau baru, mereka tidak pernah benar-benar diberikan akhir. SDD seakan memberikan kebebasan kepada mereka untuk berkembang dalam setiap dimensi yang ada dalam pikiran masing-masing pembaca.

Karena itu, membaca buku ini terkadang terasa bukan seperti cerita pendek, tapi sajak-sajak panjang dari Pak Sapardi. :]

Jumat, 18 September 2015

Mythology (Edith Hamilton) | Review

Mythology
Edith Hamilton 
ISBN 0451623754 (ISBN13: 9780451623751)
Paperback, 355 halaman
Terbitan Signet (1953) dari edisi asli terbitan Little, Brown & Company (1942) 

Mitologi, sebagai kumpulan cerita yang diceritakan, disampaikan dan disebarkan secara lisan dari generasi ke generasi, punya tingkat kesusahan yang sangat tinggi—bahkan tidak masuk akal—untuk menemukan dari mana dan siapa sumber sebenarnya cerita itu.  

Maka dari itu, salah satu unsur terpenting dari mitologi adalah sang pencerita, dan pandangan tersebut yang tampaknya dipegang dengan teguh oleh Edith Hamilton dalam buku ini. Di bagian Introduction, ia menjelaskan perbedaan dari sumber-sumber terkenal mitologi (Ovid, Homer, dll.), dan tidak lupa mencantumkan sumber mana yang ia pakai dalam setiap permulaan cerita-cerita mitologi. 

Buku ini bukan buku mitologi, tapi buku tentang mitologi. Meskipun ada ilustrasi-ilustrasi di dalamnya (copyright of Steele Savage), tapi jangan harapkan untuk bertemu buku seperti buku kumpulan dongeng yang unyu unyu jaman dulu.  

Mitologi 'yang sebenarnya' tidak mempunyai kewajiban untuk memberikan pesan atau nasihat kepada sang pembaca. Cerita itu hanya menjelaskan, atau lebih tepatnya merupakan sebuah usaha natural untuk memahami sebuah lingkungan. Sebuah usaha manusia, maka mitologi bisa dibilang adalah sebuah cermin—pada saat dan tempat ia dimulai.

Dalam Mythology, Edith Hamilton sang classicist menjelaskan dengan lumayan lengkap tentang apa sebenarnya sastra jenis ini. Juga karena ditulis oleh seorang ahli, dan dari banyak sumber pencerita, sosok seperti Zeus, Hera, Theseus atau Hercules terlihat dengan warna yang berbeda.. sangat berbeda.  

Untuk bacaan ringan, buku ini sebenarnya lumayan. Pada awalnya, kisah-kisah kesintingan para dewa dewi, bidadari bidadara, dan pahlawan suci ini cukup menarik, berhubung versi ini—yang lebih 'manusia'—jarang ada di buku kumpulan dongeng unyu unyu jaman dulu itu. Tapi lama-lama kemiripan-kemiripan plotnya jadi makin jelas, jatuh cinta (atau sekedar nafsu birahi), cemburu, licik, bunuh diri—yang terakhir ini sungguh sangat sering, hingga membuat saya penasaran apakah ada god/goddess of suicide di mitologi Yunani...

Tidak salah, sama sekali, toh seperti saya bilang, buku ini memang niatnya untuk membahas tentang mitologi. 
Ah, tapi tentang itu.. 

Meski Edith Hamilton tampaknya sama sekali tidak bermaksud menggeneralisasi mitologi, yang dibahas di sini hanyalah cerita dan versi dari budaya Yunani, Romawi, dan Nordik. Dan yang terakhir, mitologi Nordik, dibahas dengan sangat sedikit. Terlalu terlalu sedikit bahkan sampai terlihat janggal, seperti hanya diselipkan untuk memenuhi kuota halaman saja.

Sayang sekali sebenarnya, karena mitologi Nordik juga tidak kalah menarik dibanding dua mitologi sebelumnya. Kalau hanya dibahas dengan tanggung seperti itu, mending dihapus saja sekalian, ganti judulnya jadi Greek and Roman Mythology, lalu bikin buku lain yang benar-benar niat membahas: Norse Mythology. 

Yaa, maunya saya sih. 
Tolong kirim ke masa lalu, wahai Hermes..

Senin, 31 Agustus 2015

Perang (dengan) Pribadi


Beberapa tahun yang lalu, pada saat awal permulaan tahun baru, saya pernah 'iseng' bikin proyek membaca, untuk saya sendiri.

Itu adalah proyek membaca yang pertama kali saya buat, karena beberapa kebetulan sebenarnya.  Kebetulan karena saya baru sadar betapa banyaknya buku klasik yang belum sempat saya baca. Kebetulan karena saya baru menemukan gudang e-book gratis tersebut di feedbooks. Dan kebetulan juga karena saat itu saya butuh pelarian dari skripsi... :p

Maka dimulailah proyek membaca buku klasik. Tahun itu akan menjadi tahun dimana saya akan menyelesaikan membaca seluruh karya literatur klasik itu. Tahun dimana saya jatuh cinta pada Oscar Wilde, memutuskan bahwa Jane Eyre adalah cewek yang lebih hebat daripada Elizabeth Bennet, dan tahu bahwa ternyata banyak karya klasik yang sebenarnya biasa saja.

Tapi saya tidak pernah cocok dengan peraturan. Dan sungguh, gratis atau tidak gratis, membaca e-book itu bikin mata lebih cepat capek daripada buku biasa. Di akhir tahun, dari sekian ratus buku klasik yang jadi target, mungkin tidak sampai setengahnya yang berhasil saya selesaikan.

Awalnya saya merasa sedikit kesal dengan diri saya sendiri karena gagal memenuhi target tersebut, tapi akhirnya saya merasa kesal justru karena membuat target tersebut.

Saya membaca karya-karya klasik tersebut hanya karena ingin menyelesaikan proyek saja, bukan karena benar-benar ingin membaca. Sedih rasanya ketika saya sadar bahwa dari ratusan buku klasik itu, hanya sedikit yang benar-benar saya ingat (dan nikmati) isinya.

Proyek bodoh itu membuat saya membaca, dan membaca, lalu cepat-cepat menyelesaikan membaca supaya bisa segera membaca buku berikutnya. Seperti tugas sekolah saja.

Daftar unfinished classics itu memang masih mengganggu saya. Tapi saya tidak berminat untuk meneruskan proyek membaca itu, ataupun membuat yang baru. Toh tidak akan ada polisi yang menangkap saya kalau buku-buku itu belum selesai saya baca.

Seperti biasa, hanya gengsi dan kesombongan saya saja yang selalu berisik. Ini menyebalkan.

Saya tidak ingat (dan tidak ingin) punya alasan membaca hanya karena untuk membuat daftar tebal, memberi kesan baik, atau mengalahkan orang lain. Itu sungguh menyedihkan.

Saya suka membaca karena saya suka membaca. Titik.
Kalau memang ada hal-hal baru yang saya temukan pada saat membaca, ya untung. 
Kalau tidak, ya sudah.

Yah, ini peraturan yang saya coba buat, dan tidak tahu, apakah ke depannya akan membuat saya kembali tergoda untuk melanggarnya.

ahahah.

Jumat, 14 Agustus 2015

ライトノベル? Light novel? Novel ringan?

Kino no Tabi (Keiichi Sigsawa, Kouhaku Kuroboshi)


Istilah light novel (ライトノベル : raito noberu) tidak akan kamu temukan di kamus bahasa Inggris manapun juga. Ini hanyalah sebuah istilah yang diciptakan di dunia perbukuan di negara Jepang.

Light novel (LN) atau ranobe tidak banyak berbeda dengan buku biasa, namun ada beberapa karakteristik tertentu yang menjadi ciri khas dari genre ini. Light novel, sesuai dengan artinya, biasanya hanya terdiri dari 30.000 - 50.000 kata, atau sekitar 100 - 200 halaman.

Yang menjadi ciri utama adalah isi light novel selalu ditemani dengan ilustrasi, tapi tidak sampai penuh seperti manga (komik Jepang), dan tidak juga terlalu sedikit sampai seperti buku novel lainnya. Light novel juga bisa hadir dalam serial, seperti Baccano! (Ryōgo Narita, Katsumi Enami) yang sudah berlanjut hingga 21 volume dan masih berlanjut hingga sekarang.

Penulis dan ilustrator dari light novel biasanya orang yang berbeda, meski kadang ada juga penulis yang melakukan ilustrasinya sendiri. Jika light novel ini adalah adaptasi dari sebuah serial manga/anime, maka kemungkinan akan lebih banyak lagi pihak yang dilibatkan.

Light novel pada awalnya ditargetkan khusus untuk anak-anak sampai remaja awal, tapi jangan kira ceritanya selalu simpel seperti buku dongeng bergambar..

Rating dari light novel, seperti halnya manga, juga sangat bervariasi. Light novel bisa berisi drama petualangan biasa, science fiction dan komedi seperti pada serial .hack, tapi juga bisa penuh dengan kekerasan dan dark comedy, atau filosofi hidup, yang ditargetkan lebih untuk orang dewasa seperti Kino no Tabi, All You Need Is Kill (Hiroshi Sakurazaka, Yoshitoshi ABe), atau Attack on Titan: Before The Fall (Ryō Suzukaze, Thores Shibamoto).

Keterkaitan antara dunia manga/anime dan light novel sangatlah erat. Sebuah light novel bisa merupakan adaptasi dari anime/manga terkenal, seperti Death Note atau Rurouni Kenshin; dan tidak jarang juga vice versa.

Beberapa tahun terakhir ini, kepopuleran light novel tampaknya semakin meningkat, tidak hanya di Jepang, namun juga negara-negara dimana potensi pasar anime dan manga sangat tinggi, termasuk Indonesia. Light novel--yang merupakan bentuk evolusi dari pulp magazine--mulanya dijual dengan harga yang murah. Namun dengan munculnya judul terkenal seperti serial Haruhi Suzumiya (Nagaru Tanigawa, Noizi Ito)--yang cetakan pertamanya untuk volume 10 dan 11 saja sudah melampaui 500.000 buah--'kelas' light novel tampaknya semakin meningkat, demikian pula harganya.

Di Indonesia, sekitar tahun 2000-an awal, penerbit Elex Media Komputindo pernah memunculkan beberapa judul terjemahan light novel, seperti God Family karya Sayangnya genre ini tidak begitu laris di pasaran kala itu.

Tetapi, makin ramainya buku-buku remaja sekarang ini, dan juga meningkatnya permintaan akan light novel, tampaknya potensi bentuk literatur ini sungguh sangat bisa dipertimbangkan kembali.

Ada beberapa alasan.

Ranobe bukan hanya bentuk genre literatur lain. Dengan makin ramainya kebiasaan adaptasi, light novel bisa menjadi bahan pelengkap detil kisah, seperti Baccano! yang ramai dengan plot twist dan puluhan karakter berbeda. Atau bisa juga menjadi bahan perbandingan, seperti All You Need Is Kill, yang ceritanya telah dirubah sedemikian rupa oleh Hollywood menjadi film Edge of Tomorrow. Untuk merek populer seperti Death Note, Inuyasha, Naruto, atau Attack on Titan, 'kesetiaan' para fans untuk mengkoleksi berbagai cerita dalam dunia fiksi favoritnya bisa menjadi lahan menjanjikan bagi para penerbit besar maupun kecil.

Light novel Attack on Titan: Before The Fall yang barusan dirilis tampaknya laku berat di pasaran, dan ada juga beberapa bisikan tentang akan segera rilisnya LN Naruto - Kakashi Hidden Legend: Lightning of The Frozen Sky, dan Absolute Duo beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, ramainya animo light novel ini mengingatkan saya akan beberapa tahun yang lalu, ketika berbagai judul manga untuk berbagai umur semakin laris. Jika penerbit hanya memperhatikan potensi pasar saja, dan tidak memperhatikan dengan baik rating dan isi cerita sebenarnya, kasus beberapa tahun lalu seperti komik 'porno', penerbit tanpa lisensi, dan protes serta sterotip yang salah dari masyarakat--bisa muncul kembali. Bahkan mungkin lebih parah.

Dan kalau sudah begini yaa... klasik.
Tanggung jawab bukan hanya di penerbit dan toko buku saja loh. Orang tua jangan ketinggalan jaman, dan juga harus selalu sadar benar, ilustrasi 'imut' yang ada di sampul buku bukan selalu berarti ceritanya juga untuk anak-anak imut..

Rabu, 15 Juli 2015

Menunggu Prajurit Schweik yang Baik Hati


Karya Josef Švejk di saat Perang Dunia I. Keberuntungan yang dia alami sering kali justru menghasilkan kesialan untuk orang-orang sekitarnya. Saking eksentriknya, prajurit ini lebih sering dianggap tidak berotak oleh atasannya.

Kisah-kisahnya sederhana sebenarnya, satir yang penuh dengan filosofi. Saya jadi agak teringat cerita-cerita Nasrudin Hoja, yang tokoh utamanya sama-sama dipertanyakan kesehatan mentalnya--namun juga membuat tokoh lain mempertanyakan kesehatan mentalnya sendiri.

Setting waktu dan tempatnya (Prague, Perang Dunia I) bikin saya jadi berasa kuliah lagi, karena saya jadi penasaran berat dengan naik-turunnya sejarah politik Eropa waktu PD I dulu (yang notabene topik yang tidak pernah saya ambil waktu kuliah).

Buku klasik yang diterjemahkan apik oleh Djokolelono ini belum selesai saya baca sampai sekarang. Bukan karena malas, tapi lebih karena ingin menikmati lebih lama lagi kekonyolan kepintaran mas Prajurit Schweik. 

Ada sedikit kisah personal antara saya dengan buku ini.
Buku karangan penulis Ceko ini sebenarnya sudah saya 'incar' sejak nyaris 7 tahun yang lalu. Baru tahun inilah takdir mempertemukan saya dengan Mas Schweik..

Pertama kali saya melihat buku ini di pojok rak sebuah toko buku. Berdebu, tua, dan terlihat menyedihkan--masuk akal sebenarnya, karena yang saya lihat adalah versi terjemahan yang tahun 1992.

Sinopsis dengan kata 'satir' dan 'klasik' sudah cukup bikin saya tertarik. Namun, dengan isi dompet yang (terlalu) realistis, saya harus merelakan buku ini pergi, berhubung ada buku lain, buku lain yang lebih menentukan nasib kelulusan kuliah saya.

Meski saya berkali-kali kembali ke toko buku yang sama, dengan isi dompet yang sedikit lebih tebal, dan tanpa perlu mengkhawatirkan nasib kelulusan, saya tetap tidak pernah menemukan buku Prajurit Schweik itu lagi. Mencari di toko-toko lain, kota-kota lain pun sama. Setelah 4 tahun, akhirnya saya menyerah.

Tiga tahun kemudian..

Untuk kesekian kalinya saya gagal dalam sebuah tes pekerjaan. Tidak usah menunggu hasilnya pun saya sudah tahu; wawancara selalu bikin masalah. Saya tidak mau meratapi nasib, tapi untuk sekali ini saja, saya ingin menghibur diri. Di tengah perjalanan pulang, saya turun di sebuah toko buku. Besar, penuh dengan buku-buku lama, tapi sepi. Cocok untuk saya yang sedang ingin lari ke dunia lain tanpa harus berhubungan dengan manusia.

Toko buku itu penuh dengan buku-buku kuliah sebenarnya, tapi untung para karyawannya cukup murah hati, meski saya menghabiskan waktu berjam-jam di situ tanpa membeli buku satupun. Iseng mengingat kemampuan EYD saya yang parah, bagian kamus lalu menjadi tujuan utama saya.

Dan... (tolong suara drumnya)
Di sanalah Prajurit Schweik bersandar.

Berdebu, dengan pinggiran yang sudah menguning, di tengah-tengah tumpukan kamus. Butuh beberapa menit sebelum saya sadar kalo saya lagi ngakak keras sambil loncat-loncat sendiri di tengah toko buku..

Saya gak mau lebay, tapi saya gak pernah percaya sama yang namanya kebetulan. Dan 'dipertemukan' dengan buku yang sudah dicari-cari setengah mati selama 7 tahun, di saat perasaan sedang patah arang pula, rasanya kok ya gimana gitu. Seperti si Prajurit Schweik menyuruh saya untuk ketawa saja, ngakak saat depresi, meski terlihat bodoh sekalipun.

Ahaha, terkadang momentum yang tepat memang lebih penting daripada kuantitas pencapaian.
;]

Selasa, 07 Juli 2015

Kobar Api Sapardi


Ayat-ayat Api : Kumpulan Sajak

Sapardi Djoko Damono
Pustaka Firdaus, 2000
158 hlm.











Menurut kata pengantar dari Pak Sapardi Djoko Damono, buku ini berisi sajak-sajak dari dirinya yang ditulis dari tahun 1984 hingga 1999. Beberapa sudah pernah dimuat, beberapa pernah terbit terbatas, dan yang lainnya belum pernah muncul dalam buku.

Waktu pertama saya baca buku ini, sekitar berabad-abad lalu, saya gak pernah mengerti, apalagi tertarik sama isi-isinya. Mungkin karena saya memang jarang masuk area dunia puisi, dan juga karena waktu itu kepala saya masih terlalu panas buat mencoba mengerti 'api' yang ada dalam sajak Pak Sapardi ini.

Sekarang buku itu muncul lagi di tangan saya--tidak tahu kenapa, padahal yang saya cari buku lain. Setelah memutuskan untuk mencoba lagi, hasilnya malah mengejutkan. Puisi-puisi ini membawa saya ke area yang jauh berbeda, bahkan juga berbeda dari Hujan Bulan Juni--buku puisi pak Sapardi yang (saya kira) pertama saya baca (dan cintai).

Tapi anehnya, dari beberapa review lain soal buku ini, interpretasi saya malah jauh berbeda. Memang jelas terlihat Pak Sapardi berbicara tentang masalah sosial dan politik di era 90-an dalam beberapa sajaknya, tapi justru dari mayoritas yang lain saya menganggap Pak SDD banyak berbicara tentang kehidupan itu sendiri, tentang tumbuh dari tiada, hidup, dan menuju kembali ke sang Pencipta itu lagi. Seperti dalam potongan sajak utamanya, Ayat-ayat Api /9/:


api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya ia tak bisa
menjadi fosil

api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya kita luluh lantak
dalam kobarannya


Tema umum tentang kehidupan dalam kumpulan sajak ini masih dengan gaya SDD tentunya, yang meski berbicara tentang dirinya, namun tetap tidak terasa self-centered, mungkin karena khas SDD--dengan kekocakan tersembunyi seperti di sajak Pada Suatu Maghrib:

Susah benar menyeberang jalan di Jakarta ini,
hari hampir maghrib, hujan membuat segalanya tak tertib.
Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini,
astaghfirulah! rasanya di mana-mana ajal mengintip

Mungkin pikiran ini juga muncul karena saya terpengaruh oleh Pak SDD sendiri, yang bilang kalau buku ini diterbitkan sekaligus untuk menandai umurnya yang sudah memasuki dekade keenam. Entahlah, itu yang saya lihat dan saya maknai tentang api kumpulan sajak ini. Saya amatir kalau masalah puisi dan sastra, tapi.. apakah benar ada kata 'salah' dalam urusan interpretasi?