Senin, 14 Agustus 2017

(Severe) Reader's Block : Rant Edition




Urban Dictionary:
"Related to Writer's Block, this is when you cannot, for the life of you, pick up a book and read it. 
Sure, you may be able to read a paragraph or two, or maybe even a page, but you don't retain anything of what you just read or have the attention span and/or will to go on. This is common for those who have ADD, are in possession of garbage literature, or are just so exhausted from having to read so many books during school/college that reading anything else, even for pleasure, has become impossible. To those who love to read, this is worse than heart disease and cancer combined."


untuk seseorang yang "cinta buku" (dan punya blog tentang buku, dengan judul buku..), jumlah buku yang saya baca sangat sedikit. Terlalu sedikit. 
Terutama setahun terakhir ini. Nyaris tidak ada buku baru yang saya baca. Memang ada beberapa buku yang lama yang saya baca ulang, tapi selain itu dan beberapa komik lainnya, tidak ada baru. Saya tidak tahu jelas alasannya, apa karena capek, atau bosan, atau muak. Tapi kemungkinan besar penyebabnya adalah satu: BUKU ITU MAHAL.

Harga buku di Indonesia keterlaluan mahalnya. Kalau beberapa tahun yang lalu harga yang tertera hanya membuat saya masam, tapi akhir-akhir ini melihat harga di toko buku nyaris bikin serangan jantung. 

Dulu, meskipun saya tidak tahu isi buku itu apa dan saya tidak kenal/pernah dengar nama pengarangnya, saya masih bisa cukup nekat untuk beli buku. Kalau bagus, ya untung, kalau nggak, ya sudah, bikin review, lalu sumbang saja bukunya. Tapi sekarang, meskipun itu pengarang favorit saya, dan saya sudah haqul yakin buku itu bakal bagus, saya akan berpikir seribu kali sebelum beli buku itu. Kalaupun ada daftar prioritas, beli buku itu bakal menempati nomor paling bawah, tepat di bawah input daftar: "BERTAHAN HIDUP". Kalau dulu membaca buku adalah menjadi kebutuhan (utama) bagi saya, sekarang harga buku yang mahal membuat membaca buku menjadi keegoisan bagi saya. 

Kenapa harga buku begitu mahal di Indonesia? Panjang cerita tragedinya, mulai dari pajak yang begitu banyak diterapkan oleh pemerintah, harga kertas yang melonjak, hingga monopoli sadis toko buku besar. (lihat: ini dan ini)

Perpustakaan?
meh.
Perpustakaan yang bisa saya datangi (dengan kategori: milik publik, dekat dengan akses transportasi umum, dan berjarak kurang dari satu jam perjalanan) jauh dari kata layak. Orang-orang yang datang ke sana hanya untuk dua hal: Internet gratis dan atau baca koran. Jangankan buku yang update, buku sastra klasik Indonesia saja tidak bisa saya temukan di sana. 

Akhir-akhir ini, saya semakin tidak tahan melihat kampanye-kampenye 'Meningkatkan Minat Baca Indonesia' yang dijalankan pemerintah. Isinya cuman retorika belaka. Omong kosong. Pemerintah gak usah ngeluh, sok bilang 'orang Indonesia malas baca', kalau kenyataannya masih tidak memperdulikan harga buku yang melonjak tinggi. Oke, hebat, bolak-balik kasih penghargaan ke ratusan Pustaka Keliling, tapi seperti melupakan fakta kalau Perpustakaan milik pemerintah sendiri gak pernah diurus dengan benar.

Saya sedih, marah, dan muak. Dan mungkin, luapan emosi ini juga yang membuat Reader's Block saya semakin parah. Meski harus diakui, pada akhirnya, emosi-emosi ini tidak berguna, tetap tidak bisa mengisi dompet saya dengan uang untuk beli buku. 

Untuk sekarang ini, yang bisa saya lakukan hanya menutup telinga dan mata saja setiap ada liputan tentang Kampanye Literasi yang muncul. Dan untuk kutukan Reader's Block, saya sudah berhenti untuk mencoba melawannya. Bukan berarti saya menyerah dan berhenti membaca buku, saya cuman mulai dari hal kecil saja dulu, mengingat kembali rasa sayang saya terhadap buku, waktu yang telah saya habiskan bersama buku, dan apa yang telah mereka berikan kepada saya...
(yes, I'm still talking about books)





-end of rant-

Sabtu, 09 April 2016

Lelaki Harimau | Review

Lelaki Harimau

Eka Kurniawan, 2004
Gramedia Pustaka Utama
ISBN13 9786020307497



Tidak seperti yang saya harapkan. Malahan, lebih baik daripada yang saya harapkan.

Di halaman-halaman awal, paragrafnya yang penuh dengan sub-kalimat, dan juga POV yang beragam, terus terang mengingatkan saya sama novelnya Gabo. Meskipun bukan saya saja yang berpikir seperti ini, tapi sesungguhnya Eka Kurniawan punya gayanya sendiri. Bahasanya juga apik, dan membuat saya sedikit 'kasihan' dengan orang luar yang membaca buku terjemahannya.

Ceritanya bukan tentang Margio saja, yang membunuh Anwar Sadat dengan cara kejam tak terbayangkan, tetapi hampir tentang semua orang yang berputar dalam kehidupannya, mulai dari orang kampung sekitar, teman-temannya, ayah, ibu, hingga janda tua pemilik tanah setengah desa.

Sebenarnya, di tengah buku saya agak tak sabaran, dengan semua sub-sub-cerita itu, timeline yang kadang melompat-lompat maju mundur kiri kanan, dan salah ketik yang meninggalkan tanda ¬.

Kemudian saya akhirnya sadar bahwa kisah dan latar belakang para tokoh ini kemudian berputar, membentuk suatu motif kenapa Margio, suatu hari di tengah sore yang sepi itu, membisikkan beberapa kata kepada Anwar Sadat sebelum mengigit urat lehernya hingga putus.

Harimau itu mungkin sudah terpendam di dalam hati banyak orang, tetapi Margio-lah yang membiarkannya keluar..

Sabtu, 02 April 2016

Korban Iklan #2

seperti Necker's Cube, selalu tergantung sudut pandangnya..


Masih cerita tentang saya, si korban iklan dunia sinema masa kini.. 

Kasusnya konyol terkadang, misalnya ketika saya jadi keras kepala: sampai sekarang saya belum mau menonton A Most Wanted Man dan Tales From Earthsea hanya karena saya belum menyelesaikan bukunya--dalam kasus Earthsea, seluruh serialnya. Kekonyolan yang tampaknya benar-benar berasal dari sifat snob saya..

Saya tahu kalau yang namanya menjadi korban, apapun itu, bukanlah hal yang baik. Apalagi kalau itu karena godaan untuk pamer dan kebanggaan nyasar. Bagaimanapun juga, tetap saja saat godaan itu melirik, saya jadi korban lagi. Seperti ketika muncul trailer film High-Rise dengan Tom Hiddleston sebagai karakter utama, atau saat The Night Manager, novel lama le Carré dengan adaptasi terbaru dalam bentuk miniserinya, dengan duet Hugh Laurie dan Tom Hiddleston (lagi. oh no..oh yes.)

Tapi kalau dipikir, kasus saya ini tidaklah seluruhnya terlalu buruk, toh bagaimanapun juga, karena alasan apapun juga, saya jadi makin giat membaca.

Bukan, ini bukan pembenaran. Yah..tidak seluruhnya, maksud saya..

Ada beberapa hal baik yang muncul, karya-karya klasik yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, pengarang baru yang talentanya hebat, dan yang paling sering adalah, pengarang lama yang meski sudah sering saya dengar namanya, tapi saya tidak pernah tertarik dengan karyanya.

Seperti dengan Ursula K. Le Guin, pengarang yang konon adalah salah satu inspirasi Neil Gaiman, tapi baru sekarang saya mulai membaca (dan jatuh cinta pada buku pertama) serial mitologi Earthsea nya.

Juga misalnya ketika terdengar berita James Franco akan membintangi miniseri hasil adaptasi novel Stephen King terbaru, 11/22/63. Saya tahu sang pengarang ini, tapi beberapa kali saya berpikir bahwa tipe cerita horor Stephen King tidak akan pernah cocok dengan selera saya. Tapi, James Franco dalam miniseri thriller-sains fiksi tentang time travelling? Akhirnya, asumsi lama saya terbantah setelah saya membaca 11/22/63, dan membuat saya penasaran dengan judul-judul buku lama sang Stephen King.

Atau yang akhir-akhir ini terjadi, 'reuni' saya dengan John le Carré. Gara-gara The Constant Gardener, buku dan filmnya, saya tidak pernah terpikir kembali nama sang penulis mantan agen MI6 ini. Tapi kemudian berubah setelah Tinker, Tailor, Soldier, Spy... kini hati saya dipenuhi intel pensiunan George Smiley, dan Tailor of Panama juga A Perfect Spy sudah menunggu di daftar bacaan.

Jadi, apakah menjadi korban iklan dan kalah dengan godaan dunia sinema adalah hal yang benar-benar buruk? Lagi-lagi, tentu tidak semuanya. Terkadang tergantung niatnya, dan kalaupun niatnya buruk (pamer), bukan tidak mungkin dalam proses membaca, hasilnya malah berubah.

Mengundang pemikiran misalnya, saya terkejut ketika membaca buku asli Children of Men (P.D James) yang ternyata berbeda jauh dengan film adaptasinya. Dan meski saya jauh lebih suka filmnya, tapi bukunya berhasil melengkapi cerita latar belakang sang tokoh utama.

Walau diawali karena godaan iklan, belum tentu juga saya akhirnya benar-benar menonton adaptasinya. Setelah membaca High-Rise, novel distopia klasik karya J.G Ballard, saya agak tidak yakin film adaptasinya akan bisa mencakup semua kegilaan super depresif yang ada dalam bukunya.

Meski mungkin mas Tom akan merubah hal ini sih.

Aih, dunia...

Jumat, 25 Maret 2016

Korban Iklan #1



Sudah bukan berita lagi kalau sinema dan serial televisi beberapa tahun terakhir ini super penuh dengan yang namanya adaptasi dari buku. Banyak faktor pemicunya, mungkin karena lebih gampang, dan yang jelas, resikonya lebih kecil--berhubung sudah punya fans yang jelas--dan ketika ekonomi dunia didera krisis berkali-kali begini, keuntungan pasti adalah hal yang sungguh menggiurkan.

Tapi ini bukan analisa tentang adaptasi versus buku aslinya, tema itu terlalu kompleks, terlalu banyak pendapat berbeda, terlalu ketinggalan jaman. Ini cerita soal gimana saya jadi korban iklan dari godaan-godaan dua dunia itu, dunia sinema dan dunia buku.

Kasus dari segi aktor dan sutradara misalnya, Guillermo del Toro dengan buku trilogi The Strain. Del Toro! otak di balik Pan's Labyrinth nulis novel horor! dan akan jadi serial televisi pula!! Bagaimana mungkin saya menghindari serangan godaan dobel macam ini? 

Lalu sekitar tahun lalu, karena janji adaptasi dengan aktor dan aktris kelas atas: saya maraton membaca buku All You Need Is Kill - Hiroshi Sakurazaka (karena Emily Blunt), Gone Girl - Gillian Flynn (karena Rosamund Pike), Under The Skin (Scarlett Johansson sebagai makhluk luar angkasa, yep.), Before I Go To Sleep - S.J Watson (gara-gara Mark Strong & Colin Firth), juga The Prone Gunman nya Jean Patrick Manchette (salahkan Sean Penn, Idris Elba,dan Javier Bardem..)

aih, dalam statistik manajemen dan public relations pasti saya termasuk 
dalam bagian konsumen gampangan bahan lawakan.. 

Bukan hanya karena saya yang nge-fans para sutradara, aktris, dan aktor ini, tapi juga godaan dalam diri saya, yang susah sekali dibendung: keinginan untuk pamer ketika adaptasinya muncul. Meski dalam kenyataan saya ga punya tempat pamer sih, tapi Ego saya senang sekali ketika bisa menyimpan semacam kebanggaan nakal ini.

Namun ada beberapa dari kasus ini tidak berjalan begitu mulus sebenarnya. Novel The Prone Gunman membuat saya kecewa, begitu juga dengan filmnya, meski sudah digawangi Sean Penn yang juga dibantu dengan Idris Elba dan Javier Bardem.

Dalam kasus The Strain juga (meskipun ini mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi), saking patah hati terhadap buku pertamanya, saya tidak berminat menyelesaikan triloginya, juga tidak berminat menonton serialnya, sekalipun itu karya Guillermo del Toro..

Ketika hal semacam ini terjadi, apakah justru tujuan dari para om dan tante P.R itu justru malah berbalik arah? Tampaknya mereka tidak terlalu peduli dengan hasilnya, selama masih ada orang-orang penasaran dan snob seperti saya yang bakal membaca bukunya ketika dijanjikan adaptasi film/serial, tentu tidak masalah. Apalagi sekarang, ketika strategi ini semakin menggila, bahkan buku yang mungkin belum setahun umurnya, sudah ada godaan terbaru tentang rencana cast atau sutradaranya.

Aih, dunia..

Senin, 21 Maret 2016

The Secret Garden | Review


The Secret Garden

Frances Hodgson Burnett, 1911
E-book dari Project Gutenberg (bisa diambil di Feedbooks)
235 halaman

Seminggu kemarin saya 'dibombardir' dengan buku-buku yang hampir semuanya bikin capek kepala, mulai dari The Night Manager (John le Carré) yang akhirnya selesai, Lolita (Vladimir Nabokov) yang penuh imoralitas, dan High-Rise (J.G Ballard) yang bertema distopia dan juga penuh dengan imoralitas manusia.

Karena itu mungkin ketika memutuskan untuk baca buku berikutnya, alam bawah sadar saya bergerak ke The Secret Garden, karya klasik Frances Hodgson Burnett.

Setelah lama ditinggal begitu saja di tumpukan, akhirnya coba mulai baca lagi, mungkin tindakan bawah sadar ini juga gara-gara lihat adaptasi filmnya yang tahun 1993.

Awalnya saya kira bakal seperti A Little Princess--berhubung pengarangnya sama, dengan setting waktu dan tempat yang kurang lebih sama--soal anak perempuan bangsawan yang tiba-tiba jadi yatim piatu dan harus memulai hidup baru di tempat yang asing sama sekali.

Tapi Mary Lennox sama sekali berbeda dengan Sara Crewe di A Little Princess, bisa dibilang seperti antithesisnya malahan. Mary Lennox adalah anak manja, kasar, tidak pernah tersenyum, kurang ajar, dan sering merendahkan orang lain.

Ia dibesarkan dengan orangtua yang tidak pernah hadir dalam kehidupannya, seorang ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, dan seorang ibu--yang tidak pernah menginginkan anak perempuan--sibuk berpesta dan bersenang-senang dengan para teman aristokratnya. Mary hidup di antara para pelayan, yang tidak peduli dengan perasaannya, selalu tunduk pada keinginannya, yang penting dia tidak ribut dan tidak mengganggu atasan mereka, memsahib, sang Nyonya besar.

Jadi meskipun sebenarnya tidak ada alasan sama sekali untuk menyukai tokoh ini, karakter Mary bukan sepenuhnya salahnya sendiri. Mary membenci orang-orang karena dia pikir orang-orang membenci dirinya, dan menganggap itu sebagai hal yang lumrah.

Namun, anak manja sekalipun tetaplah seorang anak..

Kehidupan Mary kemudian berubah ketika wabah kolera menyerang tempat tinggalnya di India, membunuh kedua orangtuanya, dan membuat para pelayan yang masih hidup lebih memilih untuk meninggalkan tempat itu. Ia kini harus tinggal di tempat asing, Inggris, dengan walinya (sang paman, Archibald Craven, yang tampaknya juga tidak terlalu peduli dengan dirinya), di sebuah rumah besar yang dikelilingi moor.

Di tengah ketidakpedulian orang-orang sekitarnya, dan kekosongan yang ditawarkan rumah nan besar dan padang rumput yang hampa, Mary tidak punya pilihan lain selain mengembara di halaman taman yang mengelilingi properti pamannya itu.

Diawali oleh pertemuan dengan seekor burung robin, dan cerita-cerita tentang sebuah taman yang terkunci, Mary menemukan bahwa di tempat muram seperti itu, ada begitu banyak rahasia yang tersembunyi, dan ternyata untuk menyukai sesuatu tidaklah begitu susah.

Kisah dan misteri di dalam The Secret Garden dipaparkan dengan mulus, berbanding lurus juga dengan perubahan karakter utama Mary. Salah satu misteri yang terbuka adalah tentang Colin Craven, sepupu dari Mary yang keberadaannya disembunyikan semua orang.

Pertemuan dengan Colin adalah titik penting dalam perubahan karakter Mary. Colin yang bertemperamen buruk, memiliki masa lalu yang kelam, dan dijauhi semua orang, membuat Mary secara tidak langsung melihat karakter buruk yang dulu dimiliki dirinya.

Namun dengan semua perubahan itu, ketika tokoh Colin terungkap, cerita kemudian berpindah fokus. Memang, latar belakangnya masih berputar pada Secret Garden; tapi Mary Lennox sang tokoh utama kini hanya berperan sebagai tokoh pendukung, nyaris terlupakan.

Saya cukup mengerti tokoh Colin, sang raja cilik yang dibesarkan dengan pikiran bahwa ia tidak memiliki harapan sama sekali dan kematian penuh siksa akan segera mengunjungi dirinya. Saya mengerti, bahkan dengan segala kesombongan yang dimilikinya, tetapi Mary Lennox kini adalah sosok yang berbeda.

Dari awal kisah saya mengikuti perubahannya, dari bocah manja tukang marah menjadi anak yang penuh harapan. Rasanya tidak puas ketika seluruh cerita kemudian berputar kepada Colin yang berusaha keluar dari kamarnya untuk pertama kali, Colin yang masuk ke taman rahasia milik almarhum ibunya, Colin yang belajar berjalan, Colin yang kemudian bahagia dengan ayahnya, Colin yang kemudian disemangati oleh semua orang.

Memang, Mary juga bahagia dengan hal ini. Tapi saya tetap merasa tidak adil ketika buku berakhir begitu saja..

Sabtu, 12 Maret 2016

Lolita | Review


Lolita

Vladimir Nabokov, 1955
Anton Kurnia (penerjemah)
Serambi, September 2009
526 halaman
ISBN13 9789791112864

Buku ini bisa dibilang adalah monolog dari Humbert Humbert, berisi tentang pengakuannya kepada para juri (pengadilan?). H.H ditangkap karena pembunuhan terhadap Clare Quilty, dia kemudian menjelaskan hal ini. Semuanya berawal, berfokus, dan berakhir kepada satu gadis: Lolita

Pengakuan ini, tentang pembunuhan, tentang obsesi tidak pantasnya terhadap para 'peri asmara' (nymphets, kalau di naskah Inggrisnya)--anak perempuan yang berumur 9-14 tahun--juga berbagai kejahatan lainnya, nyaris tanpa rasa bersalah sedikit pun, tapi juga tanpa usaha untuk menjustifikasi perbuatannya.

Seram? tentu saja seram. Humbert Humbert menggambarkan dengan cukup detil rasa sayang dan cintanya terhadap Lolita, dan bagaimana sang gadis baru puber itu berhasil membuatnya tergila-gila. Berbagai skenario berputar di kepala H.H untuk mendapatkannya, mulai dari rencana pembunuhan, rencana 'percintaan'nya, hingga percobaan obat tidur untuk membius sang korban.

Pengakuan Humbert Humbert mengingatkan saya pada tokoh Hans Beckert dalam film M (1931, Fritz Lang, wajib ditonton). Keduanya sama-sama pedofil, namun dengan alasan dan tujuan yang berbeda, H.H mendekati para anak gadis karena kecintaannya, sementara Hans Beckert membunuh para anak gadis karena 'keharusan' yang ada dalam dirinya. Dalam film itu, ketika tokoh Hans Beckert akhirnya tertangkap, ia melanturkan sebuah monolog tak terlupakan--yang menurut saya adalah salah satu yang terbaik dalam sejarah film:

"I can’t help what I do! I can’t help it, I can’t…What do you know about it? Who are you anyway? [...] But I… I can’t help myself! I have no control over this, this evil thing inside of me, the fire, the voices, the torment! … It’s there all the time, driving me out to wander the streets, following me, silently, but I can feel it there. It’s me, pursuing myself! I want to escape, to escape from myself! But it’s impossible. I can’t escape, I have to obey it. [...]"

Sepanjang film itu, rasa jijik dan kebencian terhadap tokoh Hans Beckert begitu memuncak, namun hal ini sedikit goyah ketika ia begitu jujur berkata tentang ketidaksanggupannya untuk menahan dirinya sendiri.

Humbert yang sebegitu santainya melemparkan humor disana-sini justru membuat buku ini semakin seram. Ada sensasi rasa dingin yang nyaris tidak berhenti mengalir di tulang punggung saya ketika membaca buku ini. Bukan karena kejahatan H.H yang begitu 'sakit', tapi justru karena saya, tanpa sadar, bisa memahami, bahkan nyaris bersimpati, dengan si tokoh pedofil ini..



What do you know about it? Who are you anyway??

Selasa, 08 Maret 2016

Night Flight | Review

Night Flight



Elex Media Komputindo
ISBN13 9789792777710
 
 
Novel grafis ini diadaptasi dari buku Antoine de Saint-Exupéry, sang pengarang Le Petit Prince yang sudah terkenal akan cintanya kepada dunia aviasi. 
 
Pada awal abad ke-21, pesawat terbang adalah penemuan terbaru yang merubah pergerakan dunia ketika itu. Kecepatan dan waktu singkat menjadi premis berarti dalam dunia bisnis.
 
Night Flight bercerita tentang perusahaan pos udara yang beroperasi di daerah Amerika Selatan, dengan rute Patagonia, Chile, Argentina dan Paraguay. Untuk mengejar waktu (dan menambah keuntungan), penerbangan malam pun digerakkan. Di daerah dengan iklim dan cuaca yang susah ditebak, dan masa ketika radar belum dikenal dunia navigasi, bisa dibilang penerbangan malam adalah tantangan terberat seorang pilot pesawat. 
 
Kisah ini berfokus pada dua karakter, Riviere, sang pemilik usaha pos udara yang mementingkan perusahaannya, dan menganggap bahwa kerja keras semua pihak adalah hal terpenting dalam mencapai keberhasilan itu. Karakter kedua adalah Fabien, pilot yang terbang dari Patagonia, meskipun baru memulai kehidupan berkeluarga, namun tetap berusaha berdedikasi dengan pekerjaannya yang berbahaya. 
 
Ketika badai hujan dan angin kencang mengancam para pilot penerbangan malam, kedua karakter ini kemudian dipertemukan dalam pertanyaan besar akan apakah profesionalitas pekerjaan mereka cukup berharga untuk dibayar dengan nyawa.
 
Novel grafis ini merupakan bagian dari Manga de Dokuha, serial buku yang mengangkat karya-karya sastra dari penulis besar di dunia, dan memodifikasinya dalam bentuk komik. Karena tujuan dari serial ini adalah agar karya-karya tersebut bisa lebih gampang dipahami, maka tentu ada beberapa 'perubahan' yang harus dilakukan, salah satunya adalah pemotongan beberapa narasi, dialog, dan juga jalan cerita. 
 
Yah, ketika perubahan itu dilakukan kepada tulisan Antoine de Saint-Exupéry, saya jadi rada nyesek. Narasi Saint-Exupéry adalah salah satu yang terbaik, dan ketika dirubah menjadi gambar, rasanya tidak akan sama. 
 
Gaya manga yang diterapkan juga terasa janggal di beberapa bagian cerita ini. Seperti ekspresi wajah, dan desain karakter yang agak tidak pas dengan latar belakang tempat. Tapi terlepas dari itu, versi buku ini terhitung lumayan, terutama dalam menggambarkan tekanan batin sang bos, Riviere. Dan juga lumayan, karena paling tidak berhasil dalam membuat saya penasaran dan ingin mencari buku aslinya, atau buku terjemahannya kalau masih ada. 

Selasa, 01 Maret 2016

Pada Suatu Hari Nanti & Malam Wabah | Review


Pada Suatu Hari Nanti & Malam Wabah

Sapardi Djoko Damono, Juni 2013
200 halaman
ISBN13 9786027888401



Buku kumpulan cerita ini dibagi dua, bagian Pada Suatu Hari Nanti merupakan retelling SDD akan dongeng-dongeng yang sudah lama dikenal masyarakat, mulai dari Rama-Sita hingga si Kancil. Sedangkan Malam Wabah bisa dibilang adalah kebalikannya, bagian ini merupakan usaha SDD untuk menciptakan dongeng dan kisah tersendiri dari detil-detil kecil--terkadang nyaris terlupakan--yang ada di kehidupan 'biasa'.

Meskipun terlihat seperti dua sisi yang berbeda, ada satu persamaan yang terlihat, baik itu legenda lama atau baru, mereka tidak pernah benar-benar diberikan akhir. SDD seakan memberikan kebebasan kepada mereka untuk berkembang dalam setiap dimensi yang ada dalam pikiran masing-masing pembaca.

Karena itu, membaca buku ini terkadang terasa bukan seperti cerita pendek, tapi sajak-sajak panjang dari Pak Sapardi. :]

Sabtu, 26 Desember 2015

Seri Buku TEMPO: Antropologi Kuliner Nusantara | Review

Seri Buku TEMPO: Antropologi Kuliner Nusantara

TEMPO, 148 halaman
6 Juli 2015
ISBN13 9789799108913


Seperti halnya pendapat bahwa 'tidak ada orang yang benar-benar asli Indonesia', dalam hal kuliner juga bisa dibilang tidak ada masakan yang benar-benar asli Indonesia. Sederhana saja, negara ini terbentang begitu luas, dengan keanekaragaman yang nyaris tidak terhitung, tidak ada jenis masakan yang benar-benar bisa merangkum dan merengkuh semua itu. Sejarah padi di negara ini saja terhitung masih 'muda' jika dibandingkan dengan Asia Timur.

Buku ini kemudian berniat untuk membahas 'tingkah laku' kuliner Indonesia yang beragam ini, dan saya kutip: "...menelusuri 'peradaban rasa' itu dari tumpukan manuskrip kuno hingga ke jantung belantara di pulau-pulau yang jauh. ..."

Pada bagian awal, untuk memulai diskusi, dimulai dengan Ternate dan Tidore; salah satu daerah penting dalam hal sejarah rempah dunia. Dari segi penyajian (ahem), buku ini terbilang cukup menarik. Foto-fotonya tertata dengan baik, menarik mata, dan yang terpenting: sungguh menarik selera.

Tapi sayangnya, selera ini kemudian semakin menurun seiring bertambahnya jumlah halaman yang dibaca. ...

Layout-nya yang sederhana tapi berwarna memang tidak berubah, namun semakin lama saya semakin merasa buku ini lebih terasa seperti laporan travelling, dengan tips-tips wisata kulinernya. Memang tidak terlalu salah, tapi saya mengharapkan sedikit lebih banyak dari buku yang mempunyai subjudul "Ekonomi, Politik, dan Sejarah di Belakang Bumbu Makanan Nusantara"..

Ataukah buku ini hanya mencantumkan kata 'Antropologi' dalam judulnya sebatas untuk trik dagang saja?

Memang bukan tinjauan akademis berlibet-libet penuh daftar pustaka yang saya harapkan, tapi paling tidak ada tinjauan lah.. Banyak info singkat dalam buku ini yang diulang-ulang, bahkan dalam jarak kurang dari dua paragraf.

Kajian antropologis--yang secara umum berarti kaitan manusia dan kebudayaan yang dihasilkannya--juga nyaris nihil. Cerita historis, cerita lokal, lalu apa? Tidak ada usaha untuk mengaitkan info-info singkat ini.

Beberapa bagian juga terasa disimplifikasi, seperti Jawa = Solo = Jogja = keraton = manis. Padahal Solo dan Jogja, meskipun letak geografisnya sungguh begitu dekat, tetapi ada beberapa poin-poin kebudayaan yang menurut saya tidak boleh dilewatkan begitu saja. Misalnya pengaruh pendatang Cina dan Arab yang sangat besar di Solo. Tentu poin-poin ini sedikit banyak juga berpengaruh penting dalam kultur kuliner kedua kota.

Satu lagi titik lemah dalam buku ini: kalau berbicara tentang kuliner, tentunya bukan hanya tentang lidah dan perut saja. Tata cara penyajian sebuah masakan, atau tipe makanan dalam suatu kebudayaan pasti ada latar belakang historis dan sosialnya. Misalnya, apakah pisang rebus yang biasa dimakan sebagai snack di angkringan sama dengan pisang rebus yang dimakan sebagai pendamping makanan utama di daerah Sulawesi atau Maluku?

Sebagai tinjauan antropologi, buku ini sangat mengecewakan. Tetapi, sebagai penggugah pengetahuan, buku ini cukup lumayan. Paling tidak cerita-cerita menarik, deskripsi makanan yang begitu detil, dan juga tips wisata yang ada, mungkin bisa membangkitkan kesadaran orang bahwa kuliner Indonesia jauh, jauh, jauh, lebih banyak dari sekedar nasi dan gorengan saja.

Ke depannya, saya juga berharap bahwa para penulis bisa mengkaji kuliner Nusantara dengan jauh, jauh, jauh, jauuuh lebih baik, lebih besar, dan lebih luas. (Papua!!)

Kamis, 19 November 2015

Arsène Lupin, Gentleman-Thief | Review

Arsène Lupin, Gentleman-Thief
Maurice Leblanc

Judul asli: Arsène Lupin, Gentleman cambrioleur
279 halaman
Diterbitkan pertama kali tanggal 1 Januari 1907
ISBN 0143104861 (ISBN13: 9780143104865)

Arsène Lupin, sang pencuri baik hati, ahli menyamar, dan dikenal dengan julukan Pria Seribu Wajah. Tokoh fiksi ini diciptakan Maurice Leblanc pada tahun 1905. Sebelum berbentuk buku, Leblanc menulis cerita Lupin awalnya sebagai serial cerita pendek di majalah Prancis, Je sais tout.

Di tengah kejayaan Sherlock Holmes, tokoh Lupin yang cerdik, berani, pintar berkata-kata dan penuh kharisma, sering dikaitkan dan dibanding-bandingkan dengan tokoh detektif Inggris yang satu itu. Tidak heran jika hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, Maurice Leblanc kemudian menciptakan cerita Arsène Lupin vs. Sherlock Holmes (meski karena urusan hak cipta, nama tokoh Sherlock Holmes kemudian 'diganti' menjadi Herlock Sholmes)

Arsène Lupin, Gentleman-Thief adalah kumpulan cerita Lupin yang pertama kali dibukukan. Dalam buku ini ada delapan cerita pendek, dan salah satunya adalah kisah ketika Herlock Sholmes (a.k.a Sherlock Holmes) yang sudah berumur, pertama kali bertemu dengan sang pencuri muda Arsène Lupin. 

Maurice Leblanc tidak pernah terlalu deskriptif dalam menggambarkan tokoh pencuri Lupin. Pembaca seperti dibebaskan untuk mencari dan memutuskan sendiri karakter Arsène Lupin. Sang bangsawan penarik hati atau hanya lelaki gombal? Pencuri baik hati atau hanya bocah haus perhatian? 
Benar-benar tokoh dengan seribu wajah, seperti gelarnya.


Rabu, 21 Oktober 2015

Dosa dan Denda 1½ Dekade

errr..

Posting ini, tampaknya—harusnya—berfungsi sebagai pengingat di masa depan (semoga).

Jadi, ceritanya dimulai ketika 1½ dekade yang lalu, setelah sepuluh tahun saya menghabiskan waktu di tempat ajaib ini, saya harus pindah ke kota lain dan pulau lain. Buat orang yang pernah pindah rumah, apalagi pindah kota, pasti tahu betapa kacau dan semrawut prosesnya—bahkan untuk pelaku yang saat itu masih belum dewasa. Semua barang harus dibongkar, dipisahkan, diatur, dan ditata untuk dikemas. Melelahkan secara fisik dan emosional. Apalagi ketika berurusan dengan koleksi buku, yang dijamin otomatis akan membuat saya lebih berisik, jauh lebih berisik dari biasanya.

Singkat cerita dan waktu untuk bercerita, 1½ dekade sudah berlalu, dan tempat tinggal itu sudah lama masuk daftar nostalgia buat saya. Seperti pribadi ini, koleksi buku lama saya juga sudah berkali-kali bertumbuh, berkembang, berkurang dan bertambah. Tapi ada hal yang memalukan, sungguh sungguh memalukan. Meski sebelumnya sudah disebut saya adalah manusia yang berisik dan cerewet kalau sudah berurusan dengan buku, tapi tampaknya tingkat kecerewetan ini tidak sama dengan tingkat keterampilan dan ketertiban saya.

Dari koleksi buku yang sudah berpindah tempat ini, baru bertahun-tahun saya sadari bahwa ada 2 buku yang bukan milik saya, tapi milik perpustakaan.

Iyep, entah kenapa tampaknya dalam kesibukan persiapan perpindahan itu, saya masih sempat meminjam dua buku serial Goosebumps dari perpustakaan kantor di dekat rumah saya—atau mungkin sangat sangat lupa untuk mengembalikan. Harap maklum, ini bukan perpustakaan profesional di daerah mentereng.

Karena ini sudah bertahun-tahun lamanya terjadi, di tempat yang sangat jauh, mental cuek dan logika pemalas saya kumat untuk melupakan saja kejadian ini (baca: biarkan saja dua buku itu mendekam di rak bersama yang lainnya). Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada yang dikerjakan selain berpikir, dua buku ini—meskipun hanya serial Goosebumps dan hanya dari perpustakaan kecil itu—juga adalah utang saya. Saya yang meminjam dari perpustakaan tersebut, sudah berjanji untuk mengembalikan, dan janji adalah utang, bukan? Dan saya tidak mau kalau mati nanti, entah kapan, bakal susah hanya karena ada dua buku perpustakaan yang belum saya kembalikan.

Jadi, sudah beberapa minggu terakhir ini saya sudah bolak-balik berpikir bagaimana caranya saya mengembalikan dua buku Goosebumps ini.

Mudah-mudahan saja, mereka tidak repot-repot menghitung dendanya...

err..

5.559 DAYS?! GREAT SCOTT!!

Kamis, 08 Oktober 2015

Poirot Melacak | Review

Poirot Investigates
Agatha Christie, Suwarni A.S (Penerjemah)
ISBN 9796050234 (ISBN13: 9789792232479)
Paperback, 287 hal.
Gramedia Pustaka Utama, Januari 2014 (Cetakan Keenam)


Buku ini berisi sebelas cerita singkat tentang kasus Hercule Poirot dan Kapten Hastings. Mulai dari beberapa kasus-kasus pembunuhan 'biasa', penipuan, perampokan, hingga yang heboh seperti penculikan Perdana Menteri Inggris di tengah suasana panas perang dunia.

Meski Agatha Christie adalah salah satu penulis favorit saya, tapi sejujurnya, Hercule Poirot bukanlah detektif yang ada di hati (mon défaut, monsieur). Saya lebih suka Miss Marple yang menyelesaikan kasus bukan hanya dengan cara istimewa, tapi juga dengan sudut pandang yang tidak pernah bisa saya duga.

Dari berbagai adaptasi buruk Sherlock (dan film-film petualangan detektif lainnya), saya sudah dibuat bosan dengan tipikalitas bumbling idiot sidekick--dan gambaran Kapten Hastings di cerita ini hanyalah salah satu dari sekian banyak contoh. Belum lagi sterotip-stereotip rasisme yang muncul di beberapa cerita, benar-benar menggelikan.

Walaupun, sebenarnya, saya bisa menganggap lumrah hal ini. Mengingat waktu dan tempat ketika buku ini ditulis, juga keadaan lingkungan dari sang penulis itu sendiri. 

Buat yang penasaran seperti apa Hercule Poirot, tapi tidak terlalu ingin menghabiskan waktu membaca puluhan buku yang ada di serial, buku ringan ini lumayan bisa membantu.

Membantu untuk mengenal, tapi bukan untuk menyukai.
Penilaian berikutnya, ya tergantung karakter dan situasi masing-masing..
Hercule Poirot by CeskaSoda

Selasa, 22 September 2015

Sebelum September Berakhir

pahlawan? penjahat? martir?
boneka? dalang? korban?

Tidak semua, tapi mungkin hampir semua, para millenials dan bocah Generation X di Indonesia, punya kenangan tentang film 'wajib' itu pada saat peringatan G30S PKI. Saya katakan 'wajib', karena semua stasiun televisi pasti (dan harus) memutar film itu; dan di jaman pra-internet, pilihan kita tidaklah begitu banyak, bukan?

Setelah jatuhnya Orde Baru, kewajiban menayangkan--dan menonton--itu hilang. Untuk saya, sebenarnya ini sangat melegakan. Karena meskipun sudah berkali-kali saya lihat, tapi rasa teror, stress dan ketakutan, selalu membayang-bayangi saya tiap malam pemutaran film itu..

Tapi ada fenomena menarik yang saya perhatikan beberapa tahun terakhir ini.

Memang, terlepas dari akurasi sejarah atau fungsi propagandanya, saya juga setuju kalau dibilang film garapan Arifin C. Noer ini adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat dalam sejarah perfileman Indonesia. Mimpi buruk dan rasa mual yang saya alami setiap tahun adalah buktinya. Dan film Pengkhianatan G30S PKI ini, yang sudah tidak ditayangkan lagi, akhir-akhir ini jadi salah satu film yang dicari-cari..

Kalau alasannya untuk bahan referensi, atau bahan diskusi, saya tidak terlalu ambil pusing. Tapi ini, mereka ini, mencari-cari dengan penuh rasa excited, dengan level yang tampaknya sama seperti ketika mencari-cari buku langka atau kaset langka. Film Pengkhianatan ini seakan-akan sudah memasuki level klasik, cult, oldies..

Fenomena ini, terasa agak menyedihkan. Memang saya belum hidup saat masa itu, tapi ayah saya sudah. Ayah saya mengalami saat-saat itu di Jogja dan di Solo, sebagai mahasiswa dan sebagai warga keturunan. Saya sudah sering mendengar cerita beliau tentang saat tragedi itu terjadi, juga sebelum dan setelahnya. Dan sungguh, ekspresi Ayah saya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa kelamnya tahun-tahun itu. Bukan hanya tentang darah yang tertumpah, tapi juga kebencian yang ada--yang kemudian melahirkan kebencian lain.

Lalu, apakah mereka yang benar-benar penasaran, ataupun yang hanya 'ikut-ikutan' hunting film dan kisah tahun 1965 adalah orang-orang kurang ajar dan tidak hormat? 

Tidak, para pencari ini tidaklah salah. Meskipun saya tidak tahu, tapi saya mengerti perasaan mereka. Lagipula, saya juga tidak berhak untuk melabeli dan menghakimi. Saya sendiri, yang belajar sosial politik internasional, juga beberapa kali pernah merasakan hal yang sama. Dan mungkin, mungkin, excitement mereka itu tidaklah seluruhnya buruk; barangkali akan muncul percikan di kepala mereka, sebuah pertanyaan, sebuah ide bahkan.

Itulah logika saya yang berkata, dan seharusnya saya setujui.

Tapi..sungguh, perasaan ini, perasaan tidak nyaman ini masih tertinggal, ketika melihat wajah girang mereka.

Yah, jangan salahkan saya. Seperti sejarah, saya hanyalah versi lain, cerita lain dari mata lain.


[Tercetus setelah melihat gairah ekspresi tidak sabaran seseorang di perpustakaan untuk 
melihat arsip koran lama jaman 'itu'.]

Jumat, 18 September 2015

Mythology (Edith Hamilton) | Review

Mythology
Edith Hamilton 
ISBN 0451623754 (ISBN13: 9780451623751)
Paperback, 355 halaman
Terbitan Signet (1953) dari edisi asli terbitan Little, Brown & Company (1942) 

Mitologi, sebagai kumpulan cerita yang diceritakan, disampaikan dan disebarkan secara lisan dari generasi ke generasi, punya tingkat kesusahan yang sangat tinggi—bahkan tidak masuk akal—untuk menemukan dari mana dan siapa sumber sebenarnya cerita itu.  

Maka dari itu, salah satu unsur terpenting dari mitologi adalah sang pencerita, dan pandangan tersebut yang tampaknya dipegang dengan teguh oleh Edith Hamilton dalam buku ini. Di bagian Introduction, ia menjelaskan perbedaan dari sumber-sumber terkenal mitologi (Ovid, Homer, dll.), dan tidak lupa mencantumkan sumber mana yang ia pakai dalam setiap permulaan cerita-cerita mitologi. 

Buku ini bukan buku mitologi, tapi buku tentang mitologi. Meskipun ada ilustrasi-ilustrasi di dalamnya (copyright of Steele Savage), tapi jangan harapkan untuk bertemu buku seperti buku kumpulan dongeng yang unyu unyu jaman dulu.  

Mitologi 'yang sebenarnya' tidak mempunyai kewajiban untuk memberikan pesan atau nasihat kepada sang pembaca. Cerita itu hanya menjelaskan, atau lebih tepatnya merupakan sebuah usaha natural untuk memahami sebuah lingkungan. Sebuah usaha manusia, maka mitologi bisa dibilang adalah sebuah cermin—pada saat dan tempat ia dimulai.

Dalam Mythology, Edith Hamilton sang classicist menjelaskan dengan lumayan lengkap tentang apa sebenarnya sastra jenis ini. Juga karena ditulis oleh seorang ahli, dan dari banyak sumber pencerita, sosok seperti Zeus, Hera, Theseus atau Hercules terlihat dengan warna yang berbeda.. sangat berbeda.  

Untuk bacaan ringan, buku ini sebenarnya lumayan. Pada awalnya, kisah-kisah kesintingan para dewa dewi, bidadari bidadara, dan pahlawan suci ini cukup menarik, berhubung versi ini—yang lebih 'manusia'—jarang ada di buku kumpulan dongeng unyu unyu jaman dulu itu. Tapi lama-lama kemiripan-kemiripan plotnya jadi makin jelas, jatuh cinta (atau sekedar nafsu birahi), cemburu, licik, bunuh diri—yang terakhir ini sungguh sangat sering, hingga membuat saya penasaran apakah ada god/goddess of suicide di mitologi Yunani...

Tidak salah, sama sekali, toh seperti saya bilang, buku ini memang niatnya untuk membahas tentang mitologi. 
Ah, tapi tentang itu.. 

Meski Edith Hamilton tampaknya sama sekali tidak bermaksud menggeneralisasi mitologi, yang dibahas di sini hanyalah cerita dan versi dari budaya Yunani, Romawi, dan Nordik. Dan yang terakhir, mitologi Nordik, dibahas dengan sangat sedikit. Terlalu terlalu sedikit bahkan sampai terlihat janggal, seperti hanya diselipkan untuk memenuhi kuota halaman saja.

Sayang sekali sebenarnya, karena mitologi Nordik juga tidak kalah menarik dibanding dua mitologi sebelumnya. Kalau hanya dibahas dengan tanggung seperti itu, mending dihapus saja sekalian, ganti judulnya jadi Greek and Roman Mythology, lalu bikin buku lain yang benar-benar niat membahas: Norse Mythology

Yaa, maunya saya sih. 
Tolong kirim ke masa lalu, wahai Hermes..

Jumat, 11 September 2015

Solilokui Lili



Tidak terlalu penting memang, tapi akhir-akhir ini saya jadi penasaran dengan apa panggilan yang tepat untuk generasi saya. Generation X? Generation Y?

Generasi yang tumbuh besar dan menjadi dewasa (secara fisik, mental selalu masih dipertanyakan) di antara rentetan perubahan. Kita mengalami masa Perang Dingin, lalu kita melihatnya runtuh. Kita diyakinkan bahwa bumi adalah tempat terbaik, lalu kita diperingatkan bahwa tempat ini akan segera mengalami kehancuran. Kita melihat mesin-mesin baru mengambil alih dunia, dalam kenyataan dan dalam imajinasi. Peraturan adalah hal paling tidak keren, mereka bilang.    

Kalau secara teori, perhitungan matematis, dan diskusi para ahli (baca: Wikipedia), yang paling tepat mungkin adalah Generation Y alias Millenials alias Net Generation, alias Peter Pan Generation, kalau kata sosiolog Kathleen Shaputis.


Meski sebenarnya, saya lebih suka istilah Generation X.
Mereka yang terlahir di antara kericuhan, tetapi menolak untuk mengakuinya sebagai akhir.
Teriakan berontak dan pertanyaan-pertanyaan terdengar dari mereka, walau terdengar bising, tapi tidak pernah berhenti. Mereka dianggap marah, tapi mereka sebenarnya hanya hendak mengatakan kalau harapan itu masih ada. Ya, mereka percaya kalau harapan itu benar-benar ada,
walau mereka terlahir di antara kericuhan, di antara kehancuran yang terlihat di depan mata,
dan walau tidak ada yang meminta agar mereka menjadi harapan itu sendiri.

Saya tidak terlalu terlibat di dunia sosiologi, antropologi, atau sejarah. Istilah apapun yang dipakai untuk identitas generasi saya paling pol juga hanya berakhir di desain kaos atau mug. Bahkan, kalau saya pikir lagi, istilah-istilah itu lebih terdengar seperti label, atau, seperti tuduhan yang ditunjuk ke kami.

Membuat saya marah, sekaligus ingin tertawa terbahak-bahak.


(akibat membaca artikel ini, dan dengan tidak sengaja berpapasan dengan buku-buku motivasional jaman dulu kala yang sudah berdebu, tentu saja.)

Senin, 31 Agustus 2015

Perang (dengan) Pribadi


Beberapa tahun yang lalu, pada saat awal permulaan tahun baru, saya pernah 'iseng' bikin proyek membaca, untuk saya sendiri.

Itu adalah proyek membaca yang pertama kali saya buat, karena beberapa kebetulan sebenarnya.  Kebetulan karena saya baru sadar betapa banyaknya buku klasik yang belum sempat saya baca. Kebetulan karena saya baru menemukan gudang e-book gratis tersebut di feedbooks. Dan kebetulan juga karena saat itu saya butuh pelarian dari skripsi... :p

Maka dimulailah proyek membaca buku klasik. Tahun itu akan menjadi tahun dimana saya akan menyelesaikan membaca seluruh karya literatur klasik itu. Tahun dimana saya jatuh cinta pada Oscar Wilde, memutuskan bahwa Jane Eyre adalah cewek yang lebih hebat daripada Elizabeth Bennet, dan tahu bahwa ternyata banyak karya klasik yang sebenarnya biasa saja.

Tapi saya tidak pernah cocok dengan peraturan. Dan sungguh, gratis atau tidak gratis, membaca e-book itu bikin mata lebih cepat capek daripada buku biasa. Di akhir tahun, dari sekian ratus buku klasik yang jadi target, mungkin tidak sampai setengahnya yang berhasil saya selesaikan.

Awalnya saya merasa sedikit kesal dengan diri saya sendiri karena gagal memenuhi target tersebut, tapi akhirnya saya merasa kesal justru karena membuat target tersebut.

Saya membaca karya-karya klasik tersebut hanya karena ingin menyelesaikan proyek saja, bukan karena benar-benar ingin membaca. Sedih rasanya ketika saya sadar bahwa dari ratusan buku klasik itu, hanya sedikit yang benar-benar saya ingat (dan nikmati) isinya.

Proyek bodoh itu membuat saya membaca, dan membaca, lalu cepat-cepat menyelesaikan membaca supaya bisa segera membaca buku berikutnya. Seperti tugas sekolah saja.

Daftar unfinished classics itu memang masih mengganggu saya. Tapi saya tidak berminat untuk meneruskan proyek membaca itu, ataupun membuat yang baru. Toh tidak akan ada polisi yang menangkap saya kalau buku-buku itu belum selesai saya baca.

Seperti biasa, hanya gengsi dan kesombongan saya saja yang selalu berisik. Ini menyebalkan.

Saya tidak ingat (dan tidak ingin) punya alasan membaca hanya karena untuk membuat daftar tebal, memberi kesan baik, atau mengalahkan orang lain. Itu sungguh menyedihkan.

Saya suka membaca karena saya suka membaca. Titik.
Kalau memang ada hal-hal baru yang saya temukan pada saat membaca, ya untung. 
Kalau tidak, ya sudah.

Yah, ini peraturan yang saya coba buat, dan tidak tahu, apakah ke depannya akan membuat saya kembali tergoda untuk melanggarnya.

ahahah.

Kamis, 20 Agustus 2015

Haki Odacchi -- Wanted! | Review!

Wanted! adalah kumpulan cerita pendek (one shot) yang merupakan debut dari Oda Eiichiro alias Odacchi. Buku ini sendiri sebenarnya sudah ada dari tahun 1998, tapi baru tahun ini akhirnya Elex Media Komputindo berbaik hati untuk terjemahkan dan terbitkan.

Ada beberapa cerita yang ada dalam manga ini, idenya bermacam-macam, tapi hampir semuanya berjenis action, drama, dan adventure. Dan buat para penggemar One Piece, judul Romance Dawn pasti sudah tidak asing lagi. Yep, cerita yang bakal jadi pondasi dunia bajak laut paling terkenal dalam sejarah komik juga ada di sini.

Tapi, saya yang tidak tahu apa-apa tentang teknik menggambar bisa bilang kalau artwork Odacchi di sini masih kasar, seperti belum 'pede' benar. Kelihatan sangat jelas pengaruh Akira Toriyama di cerita-cerita di sini, mangaka yang memang Odacchi sendiri akui adalah inspirasi terbesarnya.

Meski ide ceritanya termasuk orisinil, tapi plot dan comedic timing-nya masih lemah. Tapi karena ini adalah cerita-cerita yang dibikin Odacchi pada waktu muda, jadi harap maklum saja kalau kualitasnya belum bisa menyamai One Piece yang sekarang.

Yang paling menarik sebenarnya, bagi saya pribadi paling tidak, bukan ceritanya; tapi kisah di balik pembuatan dari cerita-cerita debut ini. Curhat Odacchi-sensei bikin saya jadi makin kagum dengan semangatnya buat jadi mangaka. Dari mulai mengejar deadline sesaat setelah jadi korban kecelakaan lalu lintas, keluar dari pekerjaan part time, sampai mantap memutuskan untuk berhenti jadi asisten Nobuhiro Watsuki (pengarang Rurouni Kenshin) dan memulai serial ceritanya sendiri.


Saya jadi mengerti kenapa karakter-karakter Odacchi--terutama di buku ini--selalu punya jiwa petarung yang sungguh fokus. Entah itu Gill Bastar si penembak profesional, Bran si pencopet, atau Ryuma si ronin kelaparan. Jangan-jangan ini dasar awal dari konsep Haki di dunia One Piece?
;)

N.B: Ngomong-ngomong soal konsep awal One Piece, Wanted! juga bikin saya senang karena bisa  jadi bisa iseng nebak-nebak yang mana mungkin adalah calon desain karakter buat One Piece, dari mulai Luffy, Zorro, Vivi, Dracule Mihawk, sampai mayat yang mengambil bayangan Brook.

Jumat, 14 Agustus 2015

ライトノベル? Light novel? Novel ringan?

Kino no Tabi (Keiichi Sigsawa, Kouhaku Kuroboshi)


Istilah light novel (ライトノベル : raito noberu) tidak akan kamu temukan di kamus bahasa Inggris manapun juga. Ini hanyalah sebuah istilah yang diciptakan di dunia perbukuan di negara Jepang.

Light novel (LN) atau ranobe tidak banyak berbeda dengan buku biasa, namun ada beberapa karakteristik tertentu yang menjadi ciri khas dari genre ini. Light novel, sesuai dengan artinya, biasanya hanya terdiri dari 30.000 - 50.000 kata, atau sekitar 100 - 200 halaman.

Yang menjadi ciri utama adalah isi light novel selalu ditemani dengan ilustrasi, tapi tidak sampai penuh seperti manga (komik Jepang), dan tidak juga terlalu sedikit sampai seperti buku novel lainnya. Light novel juga bisa hadir dalam serial, seperti Baccano! (Ryōgo Narita, Katsumi Enami) yang sudah berlanjut hingga 21 volume dan masih berlanjut hingga sekarang.

Penulis dan ilustrator dari light novel biasanya orang yang berbeda, meski kadang ada juga penulis yang melakukan ilustrasinya sendiri. Jika light novel ini adalah adaptasi dari sebuah serial manga/anime, maka kemungkinan akan lebih banyak lagi pihak yang dilibatkan.

Light novel pada awalnya ditargetkan khusus untuk anak-anak sampai remaja awal, tapi jangan kira ceritanya selalu simpel seperti buku dongeng bergambar..

Rating dari light novel, seperti halnya manga, juga sangat bervariasi. Light novel bisa berisi drama petualangan biasa, science fiction dan komedi seperti pada serial .hack, tapi juga bisa penuh dengan kekerasan dan dark comedy, atau filosofi hidup, yang ditargetkan lebih untuk orang dewasa seperti Kino no Tabi, All You Need Is Kill (Hiroshi Sakurazaka, Yoshitoshi ABe), atau Attack on Titan: Before The Fall (Ryō Suzukaze, Thores Shibamoto).

Keterkaitan antara dunia manga/anime dan light novel sangatlah erat. Sebuah light novel bisa merupakan adaptasi dari anime/manga terkenal, seperti Death Note atau Rurouni Kenshin; dan tidak jarang juga vice versa.

Beberapa tahun terakhir ini, kepopuleran light novel tampaknya semakin meningkat, tidak hanya di Jepang, namun juga negara-negara dimana potensi pasar anime dan manga sangat tinggi, termasuk Indonesia. Light novel--yang merupakan bentuk evolusi dari pulp magazine--mulanya dijual dengan harga yang murah. Namun dengan munculnya judul terkenal seperti serial Haruhi Suzumiya (Nagaru Tanigawa, Noizi Ito)--yang cetakan pertamanya untuk volume 10 dan 11 saja sudah melampaui 500.000 buah--'kelas' light novel tampaknya semakin meningkat, demikian pula harganya.

Di Indonesia, sekitar tahun 2000-an awal, penerbit Elex Media Komputindo pernah memunculkan beberapa judul terjemahan light novel, seperti God Family karya Sayangnya genre ini tidak begitu laris di pasaran kala itu.

Tetapi, makin ramainya buku-buku remaja sekarang ini, dan juga meningkatnya permintaan akan light novel, tampaknya potensi bentuk literatur ini sungguh sangat bisa dipertimbangkan kembali.

Ada beberapa alasan.

Ranobe bukan hanya bentuk genre literatur lain. Dengan makin ramainya kebiasaan adaptasi, light novel bisa menjadi bahan pelengkap detil kisah, seperti Baccano! yang ramai dengan plot twist dan puluhan karakter berbeda. Atau bisa juga menjadi bahan perbandingan, seperti All You Need Is Kill, yang ceritanya telah dirubah sedemikian rupa oleh Hollywood menjadi film Edge of Tomorrow. Untuk merek populer seperti Death Note, Inuyasha, Naruto, atau Attack on Titan, 'kesetiaan' para fans untuk mengkoleksi berbagai cerita dalam dunia fiksi favoritnya bisa menjadi lahan menjanjikan bagi para penerbit besar maupun kecil.

Light novel Attack on Titan: Before The Fall yang barusan dirilis tampaknya laku berat di pasaran, dan ada juga beberapa bisikan tentang akan segera rilisnya LN Naruto - Kakashi Hidden Legend: Lightning of The Frozen Sky, dan Absolute Duo beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, ramainya animo light novel ini mengingatkan saya akan beberapa tahun yang lalu, ketika berbagai judul manga untuk berbagai umur semakin laris. Jika penerbit hanya memperhatikan potensi pasar saja, dan tidak memperhatikan dengan baik rating dan isi cerita sebenarnya, kasus beberapa tahun lalu seperti komik 'porno', penerbit tanpa lisensi, dan protes serta sterotip yang salah dari masyarakat--bisa muncul kembali. Bahkan mungkin lebih parah.

Dan kalau sudah begini yaa... klasik.
Tanggung jawab bukan hanya di penerbit dan toko buku saja loh. Orang tua jangan ketinggalan jaman, dan juga harus selalu sadar benar, ilustrasi 'imut' yang ada di sampul buku bukan selalu berarti ceritanya juga untuk anak-anak imut..

Selasa, 11 Agustus 2015

Gagal Ajaib

Ini cerita ajaib yang sayangnya gagal terjadi. Semuanya bermula dari tanda tangan di sebuah buku bekas...

Yang pernah tinggal, lewat, mendengar atau membaca tentang kota Medan pasti tahu tentang Titi Gantung. Jembatan khas yang letaknya dekat stasiun kereta api, selain terkenal karena umurnya yang sudah 130 tahun lebih, juga karena Titi Gantung adalah 'surga' bagi para pemburu buku-buku bekas dan langka.

Ketika keluarga saya masih tinggal di Medan dan lama sebelum masa penggusuran para pedagang buku, tempat ini adalah salah satu tempat favorit ayah saya. Banyak 'harta' yang ditemukan di tempat ini, dan tentu saja, saya yang lagi girang-girangnya membaca juga turut kebagian harta-harta ini.

Salah satunya adalah buku dongeng klasik terbitan Gramedia tahun 1985 berjudul Burung Emas dan Cerita-cerita Lainnya (L'Oiseau D'or et Autres Contes)

Buku kumpulan dongeng ini kemudian menjadi salah buku favorit saya. Karena bukan hanya ceritanya yang berbeda dengan dongeng 'anak-anak' lainnya, ilustrasinya juga sangat indah, karya dari ilustrator terkenal Adrienne Segùr.



Bertahun-tahun kemudian, buku itu masih saya simpan aman di rak buku kamar saya. Suatu pagi, setelah lama tak disentuh, saya iseng membuka buku itu kembali. Halaman pertama, terlihat sebuah tanda tangan, mungkin pemilik awal dari buku bekas ini.

Cecilia.

Saya punya teman bernama Cecilia. Bertemu saat kuliah, dia dari Jakarta.

Ahahah, yang benar saja..

Tapi karena bosan, saya coba memperhatikan tanda tangan itu lagi, teringat bahwa teman saya juga barusan mengirimkan sebuah kartu pos.

Ternyata...

yang kiri adalah dari buku (sengaja tidak semuanya ditampilkan..)


Kemiripan ini terlalu dekat.

Tapi sebentar--identitas orang dewasa saya mencoba membawa logika--Cecilia bukan nama yang tidak umum, dan tanda tangannya cukup sederhana.

Kemiripan ini terlalu dekat..

Yang benar saja, dua anak di kota berjarak ribuan kilometer, dan dalam jangka waktu 15 tahun?

Kemiripan ini terlalu dekat!!

Identitas orang dewasa saya kalah oleh jiwa impulsif saya yang sangat tidak percaya kebetulan. (dan mungkin juga jiwa saya yang lagi sangat bosan)

Ini mungkin hanya kemungkinan, tapi kalau kemungkinan itu adalah sebuah kemungkinan akan sebuah keajaiban, tentu harus dikejar!

Saya kemudian menghubungi teman saya itu, bertanya apakah saat kecil dia pernah punya buku dongeng berjudul Burung Emas.

Dan jawabannya adalah...

Tidak pernah.

(pada titik ini, identitas orang dewasa saya tertawa terbahak-bahak.)

Kemungkinan akan adanya sebuah keajaiban: gagal.
------------

ah, bien.. c'est la vie.

Sayang sekali memang, dan bohong kalau saya bilang saya tidak kecewa (lebih kecewa karena harus bosan kembali).

Tapi sungguh, saya tidak sedih. Meski sebuah cerita tentang keajaiban dari sebuah buku dongeng klasik akhirnya gagal, tapi saya rasa saya tidak kehilangan apapun.

Ketika saya membandingkan kedua tanda tangan itu, keterkejutan itu sempat membuat napas saya berhenti. Dan kemungkinan akan sebuah keajaiban itu, sempat membuat otak saya menciptakan probabilitas-probabilitas, rencana-rencana, strategi-strategi, logika-logika. Kejadian itu juga menghasilkan sebuah tawa, dan sebuah rasa dimana dunia saya seakan bertambah luas.

Mungkin hanya sepersekian detik hal ini terjadi, tapi waktu adalah relatif, dan sepersekian detik akan sebuah kemungkinan keajaiban ini saya rasa sudah cukup untuk mengobati gagalnya sebuah keajaiban tersebut.

Kamis, 06 Agustus 2015

Bukan Umurmu [Saga: Identitas Komik #2]

(Artikel ini merupakan bagian dari saga Identitas Komik)

Good grief!

 "wah, saya sih gak suka baca buku. Palingan komik.."

"udah gede kok baca komik terus."

Anggapan-anggapan ini membuat saya agak bingung sebenarnya. Apakah yang dianggap buruk adalah karena isi dari komiknya, atau semata-mata karena komik penuh dengan gambar..

Sindiran semacam ini juga semakin membuat saya yakin kalau bahkan sampai sekarang, komik masih diasosiasikan dengan anak kecil. Ada semacam harapan, atau mungkin generalisasi norma; kalau pintar adalah dengan membaca buku, dan buku adalah lembar-lembar tulisan yang dijilid--bukan panel-panel gambar.

Komik, alias buku bergambar, tidak akan membuat otak berkembang. Isinya terlalu gampang, bahkan akan membuat otak rusak. Sebuah mitos yang tidak pernah terbukti dengan jelas sampai sekarang.

Komik sama saja seperti buku lain, 'nasib' dari isi seluruhnya ada di tangan sang pengarang. Hanya kemampuan sang pengarang sendiri--dalam meletakkan panel gambar dan kalimat sesuai timing, yang kemudian bisa menentukan apakah komik tersebut kemudian berhasil menyampaikan apa yang ada dalam hati dan pikiran sang pengarang.

Untuk alasan tentang isi komik, saya bisa kasih argumen yang jelas untuk itu. Tidak semua komik adalah cerita untuk anak-anak. Ini fakta yang sebenarnya sudah lama ada, namun (karena banyak faktor) tidak terlalu dipedulikan di masyarakat.

Meski tidak ada hal perihal seperti kekerasan atau nudity yang perlu dikhawatirkan, cerita dari beberapa komik terkadang terlalu 'kelam', atau simpel saja, kemungkinan besar tidak akan menarik untuk umur belia. Misalnya komik slice-of-life seperti Solanin (Inio Asano), komik filsafat seperti Epileptik (David B.), komik tante-tante seperti Kimi wa Petto (Yayoi Ogawa), atau komik--yang meski setting-nya luar angkasa di masa depan, tapi njelimet macam Planetes (Makoto Yukimura).

Biarpun tokohnya sendiri adalah anak-anak atau makhluk antropomorfik yang 'imut', cerita seperti Mafalda (Quino), Dommel/Cubitus (Dupa), atau serial Peanuts dari Charles M. Schultz juga bisa penuh dengan sindiran satir pada sejarah, politik, dan budaya. Dan biar bentuknya adalah komik strip, jangan kira ekspresi mereka sungguh gamblang dan sederhana.

Ketika saya kuliah, seringkali dosen saya menggunakan kutipan dari komik strip Peanuts sebagai bahan diskusi di kelas, baik itu di kelas ilmu politik, sejarah, atau filsafat. 'Pelajaran hidup', jujur saya katakan, lebih banyak saya dapat dari komik seperti Planetes, Alien Street, Peanuts, Aria, atau Yotsuba&!

Jadi, apakah saya terlalu tua untuk baca komik?